Skip to main content

Kue Dadar Gulung Ubi Ungu

Foto: Kue Dadar Gulung Ubi Ungu (Umi Ira) 
Assalamualaikum,

Ketika teman saya / wanita carier curhat sudah merasa bosan dirumah terutama didapur. Jujur dia bilang “saya sudah tak tau mau masak apa ternyata dirumah buat dia punyeng sambil momong anak usia setahun, beres-beres rumah dan masak sampai dari wfh.
Saya Bilang nikmati saja, semoga ini cuma sementara.
Klo diturutin saya juga bisa gila malah saya gak ada waktu sementara, kecuali tinggal di dunia hidup memang sementara, sepanajng tahun sampai anak2 beranjak dewasa dan kami menua semoga tangan dan jiwa raga ini selalu bisa mendidik, melayani dan mendampingi mereka InsyaAllah. • •

Kue Dadar Gulung Ubi Ungu

Bahan Kulit
• 200 gram terigu
• 30 gram tepung tapioka ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
• 1 sdm minyak goreng
• sejumput garam
• 10 gram susu bubuk
• 1 sdt gula pasir
• 80 gram ubi rebus dengan 450 ml air
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤBahan Unti ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
• 150 gram kelapa parut • sejumput garam
• 80 gram gula pasir
• 1 lembar daun pandan.
• 100 ml air ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Cara Buat

• Potong dan cuci bersih ubi kemudian
• Rebus ubi dengan air sampai empuk, dinginkan.ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
• Setelah dingin, campurkan semua dengan bahan kulit, kemudian blender dan saring.
• Masak kelapa, gula pasir tambahkan air dan garam masak sampai kering. ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ• Panaskan teplon olesi tipis dengan minyak goreng. Tuang 1 centong adonan kulit ke teplon, jika sudah matang angkat dan isi dengan unti, gulung seperti amplop


Catatan Dewan Juri


Lagi-lagi perkenalkan, saya Baba Dion, seorang pendidik dan pengajar. Ini kue enak sekali, tradisional dan alami. Sangat rekomended untuk dibuat, enak sekali. Dijamin, setelah makan, gak mau berhenti. Biasanya kalau udah disuguhin kue begini, makan malam jadi berkurang. 

Ayo emak-emak, bikin ya. Kalau berhasil kasih tahu kami dong ya. 

Note: "Karena Pendidik dan Pengajar juga butuh makanan yang enak dan bergizi."

Comments

Popular posts from this blog

The Legend of Jambi (Narrative Text)

                                                    Gambar: http://www.ceritadongenganak.com   Once upon a time, there lived in Sumatra Island a very beautiful girl, Putri Pinang Masak. The girl was also a very kind-hearted person. This made everyone liked her so much. Many youth and princes from other countries desire her to be his wife. Nevertheless, she refused their proposals because she had not wanted to get married yet. One day, there was a very wealthy king, the king of the east kingdom, coming to her village. He proposed to marry her. Putri Pinang Masak was afraid to refuse the king’s proposal although she actually did not love the king, the ugly-faced man, at all. She knew that the king would be very angry and there would ...

The Legend of Jambi Kingdom (Narrative Text)

   Image: https://www.gambarrumah.pro/2012/10/400-gambar-kartun-rumah-adat-jambi.html Once upon a time, there were five villages, Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, and Batin Duo Belas. The villagers of those five villages lived peacefully. They helped each other. Soon, the number of villagers grew highly. The villagers thought that they needed a leader to guide them. They wanted to have a king. So, the leaders from the five villages had a meeting. They wanted to set the criteria who could be their king. "Our king should be physically strong," said the leader from Tujuh Koto. "I agree. The king should be able to protect us from the enemies, "said one leader. "Not only that. He should also be well respected by us. So, the king should be strong and have good manners," said the leader from Petajin. "Then, let’s set the criteria. I have a suggestion. The king should be strong from fire. He cannot feel the pain if we burn him," said leade...

Dari Quran hingga TOGA: Jejak Pengabdian Ridho di Ujung Desa

Foto Pribadi Kegiatan Mengajar Mengaji Langit Desa Tirta Kencana masih tampak biru bersih saat pertama kali aku menginjakkan kaki untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Mandiri. Tak ada kawan seperjuangan, tak ada posko ramai seperti yang biasa kubaca dari kisah KKN mahasiswa lainnya. Kukerta kali ini adalah tentang aku, masyarakat, dan pengabdian dalam sunyi. Kukerta Mandiri memang tak seperti KKN regular. Segalanya terasa lebih berat. Tak ada teman yang bisa diajak bertukar lelah atau ide. Semua program harus kurancang, kulobi, dan kulaksanakan sendiri. Tapi mungkin inilah pembelajaran paling sejati: bahwa nanti, saat aku kembali ke masyarakat setelah lulus, aku pun akan berjuang sendiri. Tanpa posko. Tanpa tim. Selama hampir dua bulan, Juli hingga Agustus 2025, aku mencoba menyelami denyut kehidupan desa kelahiranku dengan sudut pandang baru: seorang mahasiswa yang ingin memberi makna. Program pertama yang kulaksanakan adalah membantu Kepala Desa dalam upaya pengentasan ...