Skip to main content

Apa yang Sudah Kita Perbuat untuk Melawan Corona?


Musibah Covid-19 di Indonesia dan dunia telah membuat Jutaan manusia kehilangan pekerjaan, ratusan ribu nyawa melayang, dan jutaan jiwa di rumah sakit tengah berjuang. 

Seluruh kepala negara telah menyatakan perang!!! Maka kita pun harus ikut serta dan mengambil bagian. 

Berdiam diri di rumah saja, tidak cukup; jika kita mempunyai sedikit rejeki, maka yang sedikit itu harus kita donasikan. 

Karena di pengadilan akhirat nanti, Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, akan bertanya kepada kita:
“Apa yang sudah kita perbuat untuk Musibah Corona?” 

Sudahkah kita siap, ketika nanti Tuhan bertanya tentang tabungan kita yang kita diamkan, sementara suadara kita di sana: tim medis, pedangang kaki lima, karyawan yang kehilangan pekerjaan, dan keluarga yang kurang mampu di sana, membutuhkan uluran tangan kita.

Ayo… seberapapun donasi kita sangat berharga!!!

Ada dua Lembaga donasi yang saya rekomndasikan:
1.       KA KAMMI/Komunitas Seduh


KA-KAMMI dan komunias seduh fokus pada sumbangan APD untuk tenaga medis. Ini sangat penting, karena kita ingin tenaga medis kita aman, dan tidak ikut terpapar virus. 

Sumbangan dapat dikirim ke: 
Fajrin Nurpasca
BCA: 787 0278 165 
BSM: (451) 700 6067 306
 

2.       Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) Jambi

PCMI Jambi fokus pada pemberian paket sembako dan masker gratis bagi yang membutuhkan.

Sumbangan dapat dikirim ke:
     Muhammad Fadlan: 
     BRI 0606 012 9405 502

Semua unsur bekerja: Penjahit baju membuat masker gratis, pejabat memotong gajinya, pengusaha saling berlomba, artis menyelenggarakan konser amal, atlit lelang baju jersey, warung makan memberi nasi gratis. 

Maka kita yang bukan artis dan bukan pula pejabat harus pula berdonasi, berapapun besarnya.
 
Saya, sudah menyumbang. Maka saya mengajak teman-temanku yang baik di sana, untuk ikut pula berderma.

Insha Alloh, kita akan memenangkan peperangan ini.

Comments

Popular posts from this blog

The Legend of Jambi Kingdom (Narrative Text)

   Image: https://www.gambarrumah.pro/2012/10/400-gambar-kartun-rumah-adat-jambi.html Once upon a time, there were five villages, Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, and Batin Duo Belas. The villagers of those five villages lived peacefully. They helped each other. Soon, the number of villagers grew highly. The villagers thought that they needed a leader to guide them. They wanted to have a king. So, the leaders from the five villages had a meeting. They wanted to set the criteria who could be their king. "Our king should be physically strong," said the leader from Tujuh Koto. "I agree. The king should be able to protect us from the enemies, "said one leader. "Not only that. He should also be well respected by us. So, the king should be strong and have good manners," said the leader from Petajin. "Then, let’s set the criteria. I have a suggestion. The king should be strong from fire. He cannot feel the pain if we burn him," said leade...

The Legend of Jambi (Narrative Text)

                                                    Gambar: http://www.ceritadongenganak.com   Once upon a time, there lived in Sumatra Island a very beautiful girl, Putri Pinang Masak. The girl was also a very kind-hearted person. This made everyone liked her so much. Many youth and princes from other countries desire her to be his wife. Nevertheless, she refused their proposals because she had not wanted to get married yet. One day, there was a very wealthy king, the king of the east kingdom, coming to her village. He proposed to marry her. Putri Pinang Masak was afraid to refuse the king’s proposal although she actually did not love the king, the ugly-faced man, at all. She knew that the king would be very angry and there would ...

Percakapan Imajiner antara Ki Hajar Dewantara dan Prof. Abdul Mu’ti

Pada suatu pagi yang cerah, Prof. Abdul Mu’ti (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah-Mendikdasmen) yang tengah menyeruput kopi di pendopo imajinasi tiba-tiba didatangi sosok yang sudah tidak asing lagi. Ki Hajar Dewantara, benar, ia muncul dengan senyuman khas, berpeci hitam dengan jas putih tanpa dasi. Meskipun baru pertama kali berjumpa, mereka sungguh terlihat sangat akrab. Duduk bersila, di atas tikar sederhana, dengan sepiring ubi rebus dan segelas kopi hitam. Prof. Mu’ti menawarkan kopi pada Ki Hajar, dan langsung disetujui, kopi hitam tanda gula. Mereka lalu bercengkrama, bernostalgia tentang kejayaan pendidikan tanah air, termasuk berdiskusi tentang kebijakan pendidikan akhir-akhir ini. Ujian Nasional yang Kembali Hidup Ki Hajar:  Tuan, Menteri, kudengar engkau hendak menghidupkan kembali ujian nasional. Apakah benar anak-anak kita kembali diadili dengan tiga hari ujian? Prof. Mu’ti (berusaha tenang):  Betul Ki. Banyak pihak mendesak adanya tolak ukur nasional....