Skip to main content

Duh, di Kota Jambi Masih Ada 600 Guru Belum Bersertifikasi, Begini Jawaban Kadisdik



 Kadisdik Kota Jambi Arman. (Dewi/Brito.id)

BRITO.ID, BERITA JAMBI - Kurun waktu 13 tahun proses sertifikasi guru yang merupakan amanat Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) telah mencapai angka signifikan.

Meski begitu, di Kota Jambi masih banyak guru yang belum bersertifikasi.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Jambi, Arman Senin (13/01) menjelaskan jumlah guru yang belum bersertifikasi ada sebanyak 600 orang. Ditahun ini dana yang digelontorkan untuk membayar dana sertifikasi di Kota Jambi adalah sebanyak Rp94 Miliar terbagi per triwulan.

"Jumlah penerimanya 2.700 guru memang terkadang proses pencairan juga sering terhambat. Tapi secara keseluruhan tuntas," jelas Arman.

Arman juga mengatakan ada beberapa kendala yang dialami oleh guru, sehingga belum mendapatkan sertifikasi. Diantaranya minimnya pemahaman dan juga belum mengikuti proses sertifikasi tersebut.

"Ada beberapa persyaratan diantaranya adalah harus mengikuti MKG. Kemudian harus mengajar kalau guru SD itu tak kurang dari 20 siswa. Jika guru SMP itu 24, jam mengajar juga harus cukup. Kalau kurang itu biasanya diperbantukan ke sekolah lain," papar Arman.

Meski belum merata pihaknya akan terus melakukan sosialisasi terhadap guru yang belum bersertifikasi.

"Dari jumlah 600-an guru yang belum bersertifikasi tersebut 165 diantaranya adalah guru baru yang diangkat pada penerimaan CPNS tahun lalu," pungkas Arman.

Penulis: Dewi Anita
Editor: Ari

Sumber: BRITO JAMBI

Comments

Popular posts from this blog

The Legend of Jambi Kingdom (Narrative Text)

   Image: https://www.gambarrumah.pro/2012/10/400-gambar-kartun-rumah-adat-jambi.html Once upon a time, there were five villages, Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, and Batin Duo Belas. The villagers of those five villages lived peacefully. They helped each other. Soon, the number of villagers grew highly. The villagers thought that they needed a leader to guide them. They wanted to have a king. So, the leaders from the five villages had a meeting. They wanted to set the criteria who could be their king. "Our king should be physically strong," said the leader from Tujuh Koto. "I agree. The king should be able to protect us from the enemies, "said one leader. "Not only that. He should also be well respected by us. So, the king should be strong and have good manners," said the leader from Petajin. "Then, let’s set the criteria. I have a suggestion. The king should be strong from fire. He cannot feel the pain if we burn him," said leade...

The Legend of Jambi (Narrative Text)

                                                    Gambar: http://www.ceritadongenganak.com   Once upon a time, there lived in Sumatra Island a very beautiful girl, Putri Pinang Masak. The girl was also a very kind-hearted person. This made everyone liked her so much. Many youth and princes from other countries desire her to be his wife. Nevertheless, she refused their proposals because she had not wanted to get married yet. One day, there was a very wealthy king, the king of the east kingdom, coming to her village. He proposed to marry her. Putri Pinang Masak was afraid to refuse the king’s proposal although she actually did not love the king, the ugly-faced man, at all. She knew that the king would be very angry and there would ...

Percakapan Imajiner antara Ki Hajar Dewantara dan Prof. Abdul Mu’ti

Pada suatu pagi yang cerah, Prof. Abdul Mu’ti (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah-Mendikdasmen) yang tengah menyeruput kopi di pendopo imajinasi tiba-tiba didatangi sosok yang sudah tidak asing lagi. Ki Hajar Dewantara, benar, ia muncul dengan senyuman khas, berpeci hitam dengan jas putih tanpa dasi. Meskipun baru pertama kali berjumpa, mereka sungguh terlihat sangat akrab. Duduk bersila, di atas tikar sederhana, dengan sepiring ubi rebus dan segelas kopi hitam. Prof. Mu’ti menawarkan kopi pada Ki Hajar, dan langsung disetujui, kopi hitam tanda gula. Mereka lalu bercengkrama, bernostalgia tentang kejayaan pendidikan tanah air, termasuk berdiskusi tentang kebijakan pendidikan akhir-akhir ini. Ujian Nasional yang Kembali Hidup Ki Hajar:  Tuan, Menteri, kudengar engkau hendak menghidupkan kembali ujian nasional. Apakah benar anak-anak kita kembali diadili dengan tiga hari ujian? Prof. Mu’ti (berusaha tenang):  Betul Ki. Banyak pihak mendesak adanya tolak ukur nasional....