Skip to main content

Kemendikbud Hapus Aturan NUPTK dalam Dana Bos untuk Honorer




Foto: Republika 
 
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan penyesuaian terhadap kebijakan penggunaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Reguler. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, kebijakan ini ditetapkan untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran dari rumah sebagai akibat dari meningkatnya dampak penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19).

Penyesuaian pertama adalah dana BOS bisa digunakan untuk membayar guru honorer tanpa Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Namun, guru honorer yang mendapatkan honor dari dana BOS harus tetap tercatat dalam dapodik per 31 Desember 2019.

"Jadi tidak bisa digunakan untuk guru honorer baru yang belum tercatat di dapodik," kata Nadiem, dalam konferensi pers daring, Rabu (15/4).

Dia menegaskan, walaupun peraturan NUPTK dilepaskan sementara, namun dana BOS harus diberikan kepada guru yang belum mendapatkan tunjangan profesi. Selain itu, guru yang bersangkutan juga harus telah memenuhi beban mengajar.

"Jangan lupa mengajar di rumah itu dihitung sebagai beban mengajar," kata Nadiem.
Kebijakan ini dikeluarkan Nadiem dengan harapan dapat membantu perekonomian para guru di tengah wabah Covid-19. Kemendikbud juga memberikan kebebasan terkait persentase penggunaan dana BOS. Selama masa darurat Covid-19, pembatasan maksimal 50 persen ditiadakan.

Menurut dia, kepala sekolah saat ini diberi kebebasan secara penuh menggunakan dana BOS tanpa persentase. "Jadi tidak ada lagi pembatasan maksimal 50 persen. Jadi lebih banyak memberikan kebebasan kepala sekolah yang lebih banyak membantu sisi ekonomi guru kita," kata dia lagi.



Rabu 15 Apr 2020 18:58 WIB
Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Agus Yulianto

Sumber Republika


Comments

Popular posts from this blog

The Legend of Jambi (Narrative Text)

                                                    Gambar: http://www.ceritadongenganak.com   Once upon a time, there lived in Sumatra Island a very beautiful girl, Putri Pinang Masak. The girl was also a very kind-hearted person. This made everyone liked her so much. Many youth and princes from other countries desire her to be his wife. Nevertheless, she refused their proposals because she had not wanted to get married yet. One day, there was a very wealthy king, the king of the east kingdom, coming to her village. He proposed to marry her. Putri Pinang Masak was afraid to refuse the king’s proposal although she actually did not love the king, the ugly-faced man, at all. She knew that the king would be very angry and there would ...

The Legend of Jambi Kingdom (Narrative Text)

   Image: https://www.gambarrumah.pro/2012/10/400-gambar-kartun-rumah-adat-jambi.html Once upon a time, there were five villages, Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, and Batin Duo Belas. The villagers of those five villages lived peacefully. They helped each other. Soon, the number of villagers grew highly. The villagers thought that they needed a leader to guide them. They wanted to have a king. So, the leaders from the five villages had a meeting. They wanted to set the criteria who could be their king. "Our king should be physically strong," said the leader from Tujuh Koto. "I agree. The king should be able to protect us from the enemies, "said one leader. "Not only that. He should also be well respected by us. So, the king should be strong and have good manners," said the leader from Petajin. "Then, let’s set the criteria. I have a suggestion. The king should be strong from fire. He cannot feel the pain if we burn him," said leade...

Dari Quran hingga TOGA: Jejak Pengabdian Ridho di Ujung Desa

Foto Pribadi Kegiatan Mengajar Mengaji Langit Desa Tirta Kencana masih tampak biru bersih saat pertama kali aku menginjakkan kaki untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Mandiri. Tak ada kawan seperjuangan, tak ada posko ramai seperti yang biasa kubaca dari kisah KKN mahasiswa lainnya. Kukerta kali ini adalah tentang aku, masyarakat, dan pengabdian dalam sunyi. Kukerta Mandiri memang tak seperti KKN regular. Segalanya terasa lebih berat. Tak ada teman yang bisa diajak bertukar lelah atau ide. Semua program harus kurancang, kulobi, dan kulaksanakan sendiri. Tapi mungkin inilah pembelajaran paling sejati: bahwa nanti, saat aku kembali ke masyarakat setelah lulus, aku pun akan berjuang sendiri. Tanpa posko. Tanpa tim. Selama hampir dua bulan, Juli hingga Agustus 2025, aku mencoba menyelami denyut kehidupan desa kelahiranku dengan sudut pandang baru: seorang mahasiswa yang ingin memberi makna. Program pertama yang kulaksanakan adalah membantu Kepala Desa dalam upaya pengentasan ...