Skip to main content

Undangan Webinar "Bahasa Daerah Punah" bersama Dr. Putra



Sayang untuk dilewatkan!!! Webinar bersama Kristian Adi Putra, Ph.D. 

Dr. Putra adalah tenaga pengajar di Universitas Sebelas Maret, Solo. Beliau adalah Linguist Specialist di ALPHA-I, sebuah Lembaga yang menaungi Alumni beasiswa USAID. Dr. Putra memperoleh gelar S1 di Universitas Lampung (UNILA). Kemudian mendapatkan beasiswa S2 jurusan TESOL dari USAID di The University of Arizona, Amerika Serikat. Kemudian, pada tahun 2014 kembali melanjutkan kuliah Doktoral di kampus yang sama dengan beasiswa LPDP, pada jurusan Applied Lingusitics. Disertasi beliau tentang peran teknologi, sekolah, dan generasi muda dalam upaya pelestarian bahasa daerah di Indonesia.

Pada sesi ini, Dr. Putra akan membahas:
1. Di Indonesia, ada 11 Bahasa daerah yang telah punah (Kemdikbud, 2017), Apa penyebabnya?
2. Bahasa daerah yang punah adalah ancaman, atau malah simbol nasionalisme yang meningkat?
3. Seberapa penting bahasa daerah diajarkan kembali di sekolah?
4. Sebagian besar bahasa daerah yang punah dan kritis ada di wilayah Timur, mengapa?
5. Bahasa daerah vs bahasa asing? Mana yang lebih penting diajarkan di sekolah?
6. Apa perbedaan isu bahasa daerah di Indonesia dan di negara lain?
7. Peran generasi milenial dan generasi "Z" serta literasi digital dalam pelestarian bahasa daerah.

Ditunggu partisipasinya bersama webinar kami:
Selasa, 23 Juni 2020
Pukul: 10:00 WIB
Silahkan mendaftar di:
https://bit.ly/Bhf44

Host: Dion Ginanto, Ph.D
Organized by Batang Hari Foundation


Comments

Popular posts from this blog

The Legend of Jambi (Narrative Text)

                                                    Gambar: http://www.ceritadongenganak.com   Once upon a time, there lived in Sumatra Island a very beautiful girl, Putri Pinang Masak. The girl was also a very kind-hearted person. This made everyone liked her so much. Many youth and princes from other countries desire her to be his wife. Nevertheless, she refused their proposals because she had not wanted to get married yet. One day, there was a very wealthy king, the king of the east kingdom, coming to her village. He proposed to marry her. Putri Pinang Masak was afraid to refuse the king’s proposal although she actually did not love the king, the ugly-faced man, at all. She knew that the king would be very angry and there would ...

The Legend of Jambi Kingdom (Narrative Text)

   Image: https://www.gambarrumah.pro/2012/10/400-gambar-kartun-rumah-adat-jambi.html Once upon a time, there were five villages, Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, and Batin Duo Belas. The villagers of those five villages lived peacefully. They helped each other. Soon, the number of villagers grew highly. The villagers thought that they needed a leader to guide them. They wanted to have a king. So, the leaders from the five villages had a meeting. They wanted to set the criteria who could be their king. "Our king should be physically strong," said the leader from Tujuh Koto. "I agree. The king should be able to protect us from the enemies, "said one leader. "Not only that. He should also be well respected by us. So, the king should be strong and have good manners," said the leader from Petajin. "Then, let’s set the criteria. I have a suggestion. The king should be strong from fire. He cannot feel the pain if we burn him," said leade...

Dari Quran hingga TOGA: Jejak Pengabdian Ridho di Ujung Desa

Foto Pribadi Kegiatan Mengajar Mengaji Langit Desa Tirta Kencana masih tampak biru bersih saat pertama kali aku menginjakkan kaki untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Mandiri. Tak ada kawan seperjuangan, tak ada posko ramai seperti yang biasa kubaca dari kisah KKN mahasiswa lainnya. Kukerta kali ini adalah tentang aku, masyarakat, dan pengabdian dalam sunyi. Kukerta Mandiri memang tak seperti KKN regular. Segalanya terasa lebih berat. Tak ada teman yang bisa diajak bertukar lelah atau ide. Semua program harus kurancang, kulobi, dan kulaksanakan sendiri. Tapi mungkin inilah pembelajaran paling sejati: bahwa nanti, saat aku kembali ke masyarakat setelah lulus, aku pun akan berjuang sendiri. Tanpa posko. Tanpa tim. Selama hampir dua bulan, Juli hingga Agustus 2025, aku mencoba menyelami denyut kehidupan desa kelahiranku dengan sudut pandang baru: seorang mahasiswa yang ingin memberi makna. Program pertama yang kulaksanakan adalah membantu Kepala Desa dalam upaya pengentasan ...