Skip to main content

Belajar dari Rumah, Komunikasi Orang Tua-Guru Penting

Dioneg-Jambi- Komunikasi antara orang tua, guru, dan sekolah merupakan salah satu faktor penting untuk mewujudkan belajar dari rumah (school from home) yang efektif jelang dimulainya tahun ajaran baru 2020-2021. Hal itu diungkapkan pemerhati pendidikan Doni Koesoema A.

"Kalau berbicara tentang kualitas pembelajaran maka komunikasi antara guru dan orang tua harus efektif," kata anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) itu ketika dihubungi dari Jakarta pada Kamis (11/6).

Dia menegaskan latar belakang dan kondisi yang dimiliki oleh orang tua dan sekolah di masing-masing daerah tentu berbeda satu dengan lainnya. Namun, kedua pihak tersebut harus mempergunakan segala sarana yang tersedia untuk berkomunikasi dalam pembelajaran.

Baca juga: Begini, Makna Belajar di Rumah Selama Pandemic Covid-19

Sarana-sarana tersebut berbeda jenisnya, mulai dari yang paling canggih seperti platform belajar elektronik yang bisa diakses oleh orang tua dengan daya beli sampai dengan kondisi daerah yang tidak berlistrik dan tidak memiliki sinyal internet.

Dalam situasi seperti itu orang tua dan sekolah harus menggunakan segala opsi yang ada, seperti pembelajaran lewat telepon jika tidak bisa menggunakan internet atau bahkan guru mendatangi rumah siswa jika kondisi mengharuskan seperti itu.

"Selain itu sekolah juga harus mulai memikirkan tidak semua pembelajaran daring itu merupakan pemindahan dari yang jarak dekat," kata dosen Universitas Multimedia Nusantara (UMN) itu.

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memutuskan tahun ajaran baru 2020-2021 tetap akan dimulai pada pekan ketiga Juli.

Namun, Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Kemendikbud Evy Mulyani menegaskan bahwa tahun ajaran baru bukan berarti sekolah langsung menerapkan pembelajaran tatap muka.

Kemendikbud, tegas dia, masih melakukan kajian dan analisa perihal pembukaan sekolah dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Sumber: Republika 

Comments

Popular posts from this blog

The Legend of Jambi Kingdom (Narrative Text)

   Image: https://www.gambarrumah.pro/2012/10/400-gambar-kartun-rumah-adat-jambi.html Once upon a time, there were five villages, Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, and Batin Duo Belas. The villagers of those five villages lived peacefully. They helped each other. Soon, the number of villagers grew highly. The villagers thought that they needed a leader to guide them. They wanted to have a king. So, the leaders from the five villages had a meeting. They wanted to set the criteria who could be their king. "Our king should be physically strong," said the leader from Tujuh Koto. "I agree. The king should be able to protect us from the enemies, "said one leader. "Not only that. He should also be well respected by us. So, the king should be strong and have good manners," said the leader from Petajin. "Then, let’s set the criteria. I have a suggestion. The king should be strong from fire. He cannot feel the pain if we burn him," said leade...

The Legend of Jambi (Narrative Text)

                                                    Gambar: http://www.ceritadongenganak.com   Once upon a time, there lived in Sumatra Island a very beautiful girl, Putri Pinang Masak. The girl was also a very kind-hearted person. This made everyone liked her so much. Many youth and princes from other countries desire her to be his wife. Nevertheless, she refused their proposals because she had not wanted to get married yet. One day, there was a very wealthy king, the king of the east kingdom, coming to her village. He proposed to marry her. Putri Pinang Masak was afraid to refuse the king’s proposal although she actually did not love the king, the ugly-faced man, at all. She knew that the king would be very angry and there would ...

Percakapan Imajiner antara Ki Hajar Dewantara dan Prof. Abdul Mu’ti

Pada suatu pagi yang cerah, Prof. Abdul Mu’ti (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah-Mendikdasmen) yang tengah menyeruput kopi di pendopo imajinasi tiba-tiba didatangi sosok yang sudah tidak asing lagi. Ki Hajar Dewantara, benar, ia muncul dengan senyuman khas, berpeci hitam dengan jas putih tanpa dasi. Meskipun baru pertama kali berjumpa, mereka sungguh terlihat sangat akrab. Duduk bersila, di atas tikar sederhana, dengan sepiring ubi rebus dan segelas kopi hitam. Prof. Mu’ti menawarkan kopi pada Ki Hajar, dan langsung disetujui, kopi hitam tanda gula. Mereka lalu bercengkrama, bernostalgia tentang kejayaan pendidikan tanah air, termasuk berdiskusi tentang kebijakan pendidikan akhir-akhir ini. Ujian Nasional yang Kembali Hidup Ki Hajar:  Tuan, Menteri, kudengar engkau hendak menghidupkan kembali ujian nasional. Apakah benar anak-anak kita kembali diadili dengan tiga hari ujian? Prof. Mu’ti (berusaha tenang):  Betul Ki. Banyak pihak mendesak adanya tolak ukur nasional....