Skip to main content

Sekolah di Tiga Zona Hijau Provinsi Jambi Sudah Boleh Dibuka, Ini Yang Harus Disiapkan Sekolah

DEG- Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pembolehan belajar mengajar tatap muka siswa di kelas untuk daerah zona hijau Covid-19.

Di Provinsi Jambi sendiri saat ini ada tiga zona hijau yang ditetapkan oleh tim gugus pusat.

Ketiga daerah itu adalah Kabupaten Kerinci, Kabupaten Bungo, dan Kabupaten Tebo.

Menanggapi hal itu Plt Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi M Sahran mengatakan pada prinsipnya pihak Disdik nantinya tetap menyerahkan ke tim gugus derah masing-masing untuk menetapkan tatap muka siswa di sekolah di daerah masing-masing.

Jadwal masuk sekolah sendiri akan dimulai pada tanggal 13 Juli 2020 mendatang bertepatan dengan tahun ajaran baru 2020/2021.

"Ini untuk Kabupaten zona hijau dulu, kalau daerah tidak Keberatan, karena kabarnya Kerinci masih keberatan, karena daerah Sungai Penuh di tengah belum hijau," sebut Sahran, Minggu (5/7/2020).

Sahran juga mengatakan, jika ada orang tua yang tidak berkenan atau keberata melepaskan anaknya untuk masuk sekolah, maka hal itupun diakomodir dan tidak langsung dianggap alpa.

Persiapan pelaksanaan belajar di kelas sendiri perlu dilakukan berbagai persiapan, di antaranya penyemprotan disinfektan di lingkungan sekolah. Penyiapan pengukur suhu tubuh dan perlengkapan cuci tangan disetiap kelas.

"Anak-anak yang suhu tubuhnya tinggi di atas rata-rata tidak diperkenankan mengikuti belajar di kelas," tambahnya.

Kemudian guru-guru yang berumur 50 tahun ke atas tidak diperkenankan mengajar. Selain itu kantin sekolah juga tidak dibuka dulu. Para siswa diimbau untuk membawa bekal masing-masing ke sekolah.

"Kita juga mempersiap sistem belajar siswa itu pakai shif, secara bergantian," pungkasnya.

Sumber: TibunJambi
Penulis: Zulkifli
Editor: Rian Aidilfi Afriandi

Comments

Popular posts from this blog

The Legend of Jambi (Narrative Text)

                                                    Gambar: http://www.ceritadongenganak.com   Once upon a time, there lived in Sumatra Island a very beautiful girl, Putri Pinang Masak. The girl was also a very kind-hearted person. This made everyone liked her so much. Many youth and princes from other countries desire her to be his wife. Nevertheless, she refused their proposals because she had not wanted to get married yet. One day, there was a very wealthy king, the king of the east kingdom, coming to her village. He proposed to marry her. Putri Pinang Masak was afraid to refuse the king’s proposal although she actually did not love the king, the ugly-faced man, at all. She knew that the king would be very angry and there would ...

The Legend of Jambi Kingdom (Narrative Text)

   Image: https://www.gambarrumah.pro/2012/10/400-gambar-kartun-rumah-adat-jambi.html Once upon a time, there were five villages, Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, and Batin Duo Belas. The villagers of those five villages lived peacefully. They helped each other. Soon, the number of villagers grew highly. The villagers thought that they needed a leader to guide them. They wanted to have a king. So, the leaders from the five villages had a meeting. They wanted to set the criteria who could be their king. "Our king should be physically strong," said the leader from Tujuh Koto. "I agree. The king should be able to protect us from the enemies, "said one leader. "Not only that. He should also be well respected by us. So, the king should be strong and have good manners," said the leader from Petajin. "Then, let’s set the criteria. I have a suggestion. The king should be strong from fire. He cannot feel the pain if we burn him," said leade...

Dari Quran hingga TOGA: Jejak Pengabdian Ridho di Ujung Desa

Foto Pribadi Kegiatan Mengajar Mengaji Langit Desa Tirta Kencana masih tampak biru bersih saat pertama kali aku menginjakkan kaki untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Mandiri. Tak ada kawan seperjuangan, tak ada posko ramai seperti yang biasa kubaca dari kisah KKN mahasiswa lainnya. Kukerta kali ini adalah tentang aku, masyarakat, dan pengabdian dalam sunyi. Kukerta Mandiri memang tak seperti KKN regular. Segalanya terasa lebih berat. Tak ada teman yang bisa diajak bertukar lelah atau ide. Semua program harus kurancang, kulobi, dan kulaksanakan sendiri. Tapi mungkin inilah pembelajaran paling sejati: bahwa nanti, saat aku kembali ke masyarakat setelah lulus, aku pun akan berjuang sendiri. Tanpa posko. Tanpa tim. Selama hampir dua bulan, Juli hingga Agustus 2025, aku mencoba menyelami denyut kehidupan desa kelahiranku dengan sudut pandang baru: seorang mahasiswa yang ingin memberi makna. Program pertama yang kulaksanakan adalah membantu Kepala Desa dalam upaya pengentasan ...