Skip to main content

Silaturahmi dan Pembahasan Rencana Cultural Trip: Bangun Kebersamaan dan Penguatan Internasionalisasi

Jambi, 27 Maret 2025 — Pusat Layanan Kerja Sama Internasional (PLKI) LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi mengadakan kegiatan silaturahmi yang dirangkai dengan pembahasan rencana Cultural Trip bersama mahasiswa internasional. Acara ini dihadiri oleh perwakilan mahasiswa asal Malaysia dalam suasana penuh keakraban dan dialog terbuka.

Dalam kegiatan tersebut, dibahas rencana pelaksanaan Cultural Trip yang direncanakan akan mengunjungi Pulau Berhala, salah satu destinasi wisata bahari dan budaya di Provinsi Jambi. Perjalanan ini bertujuan memperkenalkan kekayaan alam dan budaya lokal kepada mahasiswa asing, sekaligus mempererat hubungan antarmahasiswa dan pihak kampus.



Koordinator PLKI, Dr. Dion Ginanto, menyampaikan bahwa Cultural Trip merupakan bagian dari program penguatan internasionalisasi kampus. “Melalui kegiatan ini, kami ingin mahasiswa internasional tidak hanya mendapatkan pengalaman akademik, tetapi juga pembelajaran budaya secara langsung. Pulau Berhala menjadi pilihan yang tepat untuk mengenalkan keindahan alam dan nilai sejarah Jambi,” ujar Dion.

Mahasiswa asal Malaysia menyambut antusias rencana tersebut dan menyatakan kesiapan mereka untuk berpartisipasi aktif. Mereka berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan guna menambah wawasan, mempererat persahabatan, dan menciptakan kenangan selama menempuh studi di UIN STS Jambi.

PLKI berharap Cultural Trip ke Pulau Berhala ini menjadi awal dari rangkaian program budaya yang bersifat rutin, yang mampu memperkuat peran UIN STS Jambi sebagai kampus yang ramah dan terbuka bagi mahasiswa internasional.


Comments

Popular posts from this blog

The Legend of Jambi (Narrative Text)

                                                    Gambar: http://www.ceritadongenganak.com   Once upon a time, there lived in Sumatra Island a very beautiful girl, Putri Pinang Masak. The girl was also a very kind-hearted person. This made everyone liked her so much. Many youth and princes from other countries desire her to be his wife. Nevertheless, she refused their proposals because she had not wanted to get married yet. One day, there was a very wealthy king, the king of the east kingdom, coming to her village. He proposed to marry her. Putri Pinang Masak was afraid to refuse the king’s proposal although she actually did not love the king, the ugly-faced man, at all. She knew that the king would be very angry and there would ...

The Legend of Jambi Kingdom (Narrative Text)

   Image: https://www.gambarrumah.pro/2012/10/400-gambar-kartun-rumah-adat-jambi.html Once upon a time, there were five villages, Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, and Batin Duo Belas. The villagers of those five villages lived peacefully. They helped each other. Soon, the number of villagers grew highly. The villagers thought that they needed a leader to guide them. They wanted to have a king. So, the leaders from the five villages had a meeting. They wanted to set the criteria who could be their king. "Our king should be physically strong," said the leader from Tujuh Koto. "I agree. The king should be able to protect us from the enemies, "said one leader. "Not only that. He should also be well respected by us. So, the king should be strong and have good manners," said the leader from Petajin. "Then, let’s set the criteria. I have a suggestion. The king should be strong from fire. He cannot feel the pain if we burn him," said leade...

Dari Quran hingga TOGA: Jejak Pengabdian Ridho di Ujung Desa

Foto Pribadi Kegiatan Mengajar Mengaji Langit Desa Tirta Kencana masih tampak biru bersih saat pertama kali aku menginjakkan kaki untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Mandiri. Tak ada kawan seperjuangan, tak ada posko ramai seperti yang biasa kubaca dari kisah KKN mahasiswa lainnya. Kukerta kali ini adalah tentang aku, masyarakat, dan pengabdian dalam sunyi. Kukerta Mandiri memang tak seperti KKN regular. Segalanya terasa lebih berat. Tak ada teman yang bisa diajak bertukar lelah atau ide. Semua program harus kurancang, kulobi, dan kulaksanakan sendiri. Tapi mungkin inilah pembelajaran paling sejati: bahwa nanti, saat aku kembali ke masyarakat setelah lulus, aku pun akan berjuang sendiri. Tanpa posko. Tanpa tim. Selama hampir dua bulan, Juli hingga Agustus 2025, aku mencoba menyelami denyut kehidupan desa kelahiranku dengan sudut pandang baru: seorang mahasiswa yang ingin memberi makna. Program pertama yang kulaksanakan adalah membantu Kepala Desa dalam upaya pengentasan ...