Skip to main content

LPPM UIN SUTHA Jambi Kick Off Program WARKOP LP2M

Jambi- Lembaga Panelitian dan Pagadian Masyarakat (LPPM) UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi meresmikan (kick off) program WARKOP LP2M. Program WARKOP ditujukan untuk memberikan klinik penelitian bagi dosen dan mahasiswa di lingkungan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. WARKOP sendiri adalah singkatan dari Write-in, Asistensi Jurnal, Riset, Kepenulisan, Obrolan Ilmiah, dan Penerbitan.

Write-in, adalah program memindahkan tempat menulis dari rumah ke kampus. Peserta datang ke ruang perpustakaan LPPM, dan kemudian menulis di ruang nyaman dan tidak tenang. Untuk menunjang kegiatan menulis ini, pihak LPPM meyediakan kopi, teh, dan snack yang semuanya gratis dan self-service. Memberikan ruang yang tenang, dan berada di tengah-tengah kolega yang juga sibuk menulis, serta ditemani kopi dan snack diharapkan mampu meningkatkan semangat dan inspirasi untuk konsisten berkarya. 

                             Peserta Write-in tengah berdiskusi untuk membentuk penelitian bersama.

Sedangkan Asistensi Jurnal, Riset, Kepenulisan, Obrolan Ilmiah, dan Penerbitan, LPPM mengadakan acara dengan konsep Brown-Bag. Brown-Bag di sini diartikan sebagai tas coklat, yang juga berarti peserta diharapkan membawa snack atau makan siang sendiri. Dalam acara Brown Bag ini LPPM mengundag satu pemateri yang akan membedah jurnal yang pernah diterbitkan serta memberikan klinik dan bimbingan agar dapat menembus jurnal Internasional bereputasi.

Dr. Ayub Mursalin, ketua LPPM UIN Sulthan Thaha Saifudin Jambi mengharapkan agar kegiatan WARKOP dapat meningkatakan kualitas dan kuantitas penelitian baik oleh dosen dan mahasiswa di lingkup kampus Green Sutha. Selain itu tentunya WARKOP dapat dijadikan sebagai salah satu sarana untuk membentuk budaya ilmiah di lingkungan kampus, yang nantinya dari hasil-hasil penelitian dan publikasi ilmiah dapat memberikan warna tersendiri bagi dosen dan mahasiswa UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

The Legend of Jambi Kingdom (Narrative Text)

   Image: https://www.gambarrumah.pro/2012/10/400-gambar-kartun-rumah-adat-jambi.html Once upon a time, there were five villages, Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, and Batin Duo Belas. The villagers of those five villages lived peacefully. They helped each other. Soon, the number of villagers grew highly. The villagers thought that they needed a leader to guide them. They wanted to have a king. So, the leaders from the five villages had a meeting. They wanted to set the criteria who could be their king. "Our king should be physically strong," said the leader from Tujuh Koto. "I agree. The king should be able to protect us from the enemies, "said one leader. "Not only that. He should also be well respected by us. So, the king should be strong and have good manners," said the leader from Petajin. "Then, let’s set the criteria. I have a suggestion. The king should be strong from fire. He cannot feel the pain if we burn him," said leade...

The Legend of Jambi (Narrative Text)

                                                    Gambar: http://www.ceritadongenganak.com   Once upon a time, there lived in Sumatra Island a very beautiful girl, Putri Pinang Masak. The girl was also a very kind-hearted person. This made everyone liked her so much. Many youth and princes from other countries desire her to be his wife. Nevertheless, she refused their proposals because she had not wanted to get married yet. One day, there was a very wealthy king, the king of the east kingdom, coming to her village. He proposed to marry her. Putri Pinang Masak was afraid to refuse the king’s proposal although she actually did not love the king, the ugly-faced man, at all. She knew that the king would be very angry and there would ...

Percakapan Imajiner antara Ki Hajar Dewantara dan Prof. Abdul Mu’ti

Pada suatu pagi yang cerah, Prof. Abdul Mu’ti (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah-Mendikdasmen) yang tengah menyeruput kopi di pendopo imajinasi tiba-tiba didatangi sosok yang sudah tidak asing lagi. Ki Hajar Dewantara, benar, ia muncul dengan senyuman khas, berpeci hitam dengan jas putih tanpa dasi. Meskipun baru pertama kali berjumpa, mereka sungguh terlihat sangat akrab. Duduk bersila, di atas tikar sederhana, dengan sepiring ubi rebus dan segelas kopi hitam. Prof. Mu’ti menawarkan kopi pada Ki Hajar, dan langsung disetujui, kopi hitam tanda gula. Mereka lalu bercengkrama, bernostalgia tentang kejayaan pendidikan tanah air, termasuk berdiskusi tentang kebijakan pendidikan akhir-akhir ini. Ujian Nasional yang Kembali Hidup Ki Hajar:  Tuan, Menteri, kudengar engkau hendak menghidupkan kembali ujian nasional. Apakah benar anak-anak kita kembali diadili dengan tiga hari ujian? Prof. Mu’ti (berusaha tenang):  Betul Ki. Banyak pihak mendesak adanya tolak ukur nasional....