Skip to main content

Mahasiswa Jambi Didorong Raih Beasiswa Internasional

Pusat Layanan Kerja Sama Internasional (PLKI) LPPM UIN STS Jambi bersama Unit Kegiatan Mahasiswa Penalaran Ilmiah dan Kreativitas Mahasiswa (UKM PIKMA) menggelar Pelatihan Beasiswa ke Luar Negeri di Gedung Amphiteater lantai 4, Selasa (2/12/2025). Kegiatan berlangsung pukul 09.00 hingga 12.00 WIB dengan dihadiri pengurus dan anggota UKM PIKMA.

Pelatihan ini menghadirkan Dr. Dion Ginanto, alumni beasiswa USAID dan Graduate Assistantship dari Michigan State University, Amerika Serikat, sebagai pemateri. Dalam paparannya, Dion menekankan pentingnya kesiapan mahasiswa Jambi untuk bersaing memperoleh beasiswa internasional. Ia menyoroti bahwa selama ini pendaftar beasiswa masih banyak berasal dari Pulau Jawa, sementara dari Jambi jumlahnya relatif sedikit. Padahal, kesempatan terbuka luas melalui berbagai program seperti LPDP, Fulbright, AUSAID, dan beasiswa dari negara-negara mitra.

Peserta mendapatkan pembekalan praktis mengenai akses informasi beasiswa, persiapan TOEFL, penyusunan curriculum vitae, penulisan motivation letter, hingga pembuatan recommendation letter. Materi tersebut diharapkan dapat menjadi bekal nyata bagi mahasiswa yang ingin menembus seleksi beasiswa internasional.

Dion menyampaikan rasa syukur atas kesempatan menjadi mentor dalam kegiatan ini. “Saya sangat bahagia karena diberi kesempatan untuk menjadi mentor pada kegiatan ini. PLKI-LPPM selama ini telah berhasil memberikan bimbingan alumni UIN Jambi ke luar negeri. Semoga makin banyak lagi alumni UIN Jambi yang mendapat beasiswa ke mancanegara,” ujarnya.

Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi mahasiswa Jambi untuk lebih percaya diri bersaing di tingkat global. Dengan bekal keterampilan dan informasi yang tepat, peluang menembus beasiswa internasional bukan lagi sekadar mimpi, melainkan sebuah kenyataan yang bisa diraih.

 


Comments

Popular posts from this blog

The Legend of Jambi Kingdom (Narrative Text)

   Image: https://www.gambarrumah.pro/2012/10/400-gambar-kartun-rumah-adat-jambi.html Once upon a time, there were five villages, Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, and Batin Duo Belas. The villagers of those five villages lived peacefully. They helped each other. Soon, the number of villagers grew highly. The villagers thought that they needed a leader to guide them. They wanted to have a king. So, the leaders from the five villages had a meeting. They wanted to set the criteria who could be their king. "Our king should be physically strong," said the leader from Tujuh Koto. "I agree. The king should be able to protect us from the enemies, "said one leader. "Not only that. He should also be well respected by us. So, the king should be strong and have good manners," said the leader from Petajin. "Then, let’s set the criteria. I have a suggestion. The king should be strong from fire. He cannot feel the pain if we burn him," said leade...

The Legend of Jambi (Narrative Text)

                                                    Gambar: http://www.ceritadongenganak.com   Once upon a time, there lived in Sumatra Island a very beautiful girl, Putri Pinang Masak. The girl was also a very kind-hearted person. This made everyone liked her so much. Many youth and princes from other countries desire her to be his wife. Nevertheless, she refused their proposals because she had not wanted to get married yet. One day, there was a very wealthy king, the king of the east kingdom, coming to her village. He proposed to marry her. Putri Pinang Masak was afraid to refuse the king’s proposal although she actually did not love the king, the ugly-faced man, at all. She knew that the king would be very angry and there would ...

Percakapan Imajiner antara Ki Hajar Dewantara dan Prof. Abdul Mu’ti

Pada suatu pagi yang cerah, Prof. Abdul Mu’ti (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah-Mendikdasmen) yang tengah menyeruput kopi di pendopo imajinasi tiba-tiba didatangi sosok yang sudah tidak asing lagi. Ki Hajar Dewantara, benar, ia muncul dengan senyuman khas, berpeci hitam dengan jas putih tanpa dasi. Meskipun baru pertama kali berjumpa, mereka sungguh terlihat sangat akrab. Duduk bersila, di atas tikar sederhana, dengan sepiring ubi rebus dan segelas kopi hitam. Prof. Mu’ti menawarkan kopi pada Ki Hajar, dan langsung disetujui, kopi hitam tanda gula. Mereka lalu bercengkrama, bernostalgia tentang kejayaan pendidikan tanah air, termasuk berdiskusi tentang kebijakan pendidikan akhir-akhir ini. Ujian Nasional yang Kembali Hidup Ki Hajar:  Tuan, Menteri, kudengar engkau hendak menghidupkan kembali ujian nasional. Apakah benar anak-anak kita kembali diadili dengan tiga hari ujian? Prof. Mu’ti (berusaha tenang):  Betul Ki. Banyak pihak mendesak adanya tolak ukur nasional....