Skip to main content

UIN STS Jambi dan IIUM Malaysia Gelar Konferensi Internasional Bertema Keislaman dan Kepemimpinan


Sambutan dari perwakilan Pascasarjanan IIUM

Selangor, 31 Juli – 1 Agustus 2022 – Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin (UIN STS) Jambi bekerja sama dengan International Islamic University Malaysia (IIUM) menggelar Konferensi Internasional yang berlangsung selama dua hari, bertempat di Auditorium IIUM, Selangor, Malaysia.

Konferensi ini dihadiri oleh pimpinan dari kedua institusi. Dari pihak IIUM hadir Wakil Rektor Bidang Akademik, Direktur Pascasarjana, dan Direktur International Office IIUM. Sementara itu, UIN STS Jambi diwakili oleh Rektor UIN STS Jambi, Wakil Rektor I, Ketua International Office, serta Direktur Pascasarjana.

Dalam konferensi ini, Prof. Dr. Irwandi Jaswir dari IIUM tampil sebagai keynote speaker, sementara UIN STS Jambi menampilkan Dr. Dion Ginanto sebagai pembicara utama.

Konferensi ini diselenggarakan sebagai wujud nyata dari komitmen kerja sama antara UIN STS Jambi dan IIUM, sekaligus menjadi forum akademik untuk menggali dan mengembangkan tema-tema strategis seputar keislaman dan kepemimpinan Islam dalam konteks global saat ini.

Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan antar kedua institusi serta membuka peluang kerja sama yang lebih luas di bidang pendidikan, riset, dan pertukaran akademik internasional.


Comments

Popular posts from this blog

The Legend of Jambi Kingdom (Narrative Text)

   Image: https://www.gambarrumah.pro/2012/10/400-gambar-kartun-rumah-adat-jambi.html Once upon a time, there were five villages, Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, and Batin Duo Belas. The villagers of those five villages lived peacefully. They helped each other. Soon, the number of villagers grew highly. The villagers thought that they needed a leader to guide them. They wanted to have a king. So, the leaders from the five villages had a meeting. They wanted to set the criteria who could be their king. "Our king should be physically strong," said the leader from Tujuh Koto. "I agree. The king should be able to protect us from the enemies, "said one leader. "Not only that. He should also be well respected by us. So, the king should be strong and have good manners," said the leader from Petajin. "Then, let’s set the criteria. I have a suggestion. The king should be strong from fire. He cannot feel the pain if we burn him," said leade...

The Legend of Jambi (Narrative Text)

                                                    Gambar: http://www.ceritadongenganak.com   Once upon a time, there lived in Sumatra Island a very beautiful girl, Putri Pinang Masak. The girl was also a very kind-hearted person. This made everyone liked her so much. Many youth and princes from other countries desire her to be his wife. Nevertheless, she refused their proposals because she had not wanted to get married yet. One day, there was a very wealthy king, the king of the east kingdom, coming to her village. He proposed to marry her. Putri Pinang Masak was afraid to refuse the king’s proposal although she actually did not love the king, the ugly-faced man, at all. She knew that the king would be very angry and there would ...

Percakapan Imajiner antara Ki Hajar Dewantara dan Prof. Abdul Mu’ti

Pada suatu pagi yang cerah, Prof. Abdul Mu’ti (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah-Mendikdasmen) yang tengah menyeruput kopi di pendopo imajinasi tiba-tiba didatangi sosok yang sudah tidak asing lagi. Ki Hajar Dewantara, benar, ia muncul dengan senyuman khas, berpeci hitam dengan jas putih tanpa dasi. Meskipun baru pertama kali berjumpa, mereka sungguh terlihat sangat akrab. Duduk bersila, di atas tikar sederhana, dengan sepiring ubi rebus dan segelas kopi hitam. Prof. Mu’ti menawarkan kopi pada Ki Hajar, dan langsung disetujui, kopi hitam tanda gula. Mereka lalu bercengkrama, bernostalgia tentang kejayaan pendidikan tanah air, termasuk berdiskusi tentang kebijakan pendidikan akhir-akhir ini. Ujian Nasional yang Kembali Hidup Ki Hajar:  Tuan, Menteri, kudengar engkau hendak menghidupkan kembali ujian nasional. Apakah benar anak-anak kita kembali diadili dengan tiga hari ujian? Prof. Mu’ti (berusaha tenang):  Betul Ki. Banyak pihak mendesak adanya tolak ukur nasional....