Skip to main content

LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi kembali Mengadakan Workshop Penulisan Artikel Jurnal Bereputasi

Pemateri: Fibrika Rahmat Basuki, M.Pd

WARKOP (Write-in, Asistensi jurnal, Riset, Kepenulisan, Obrolan ilmiah, dan Penerbitan) LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi kembali menggelar workshop pendampingan penulisan artikel jurnal bereputasi. Kegiatan ini adalah rangkian workswop sebelumnya, yang saat ini merupkan series yang ke-3. Pada pertemuan kali ini, peserta belajar mengupas tuntas penulisan artikel pada jurnal. Menariknya, pemateri (Bapak Fibrika R. Basuki, M.Pd) membedah secara langung draft artikel jurnal dari peserta sendiri.

Workshop Series 3 ini telah menghasilkan lima draft artikel, yang kemudian direview oleh pemateri. Dalam prosesnya, Bapak Fibrika banyak menyoroti tentang penulisan nama tempat penelitian yang harusnya disamarkan. Hal ini dikarenakan, dapat merugikan instansi yang diteliti, oleh karena itu nama tempat penelitian harus dirubah dan disamarkan. Begitu juga nama participant yang diinterview, juga tidak boleh menggunakan nama asli. 

 Proses review via zoom oleh Pemateri

Pemateri juga menyinggung tentang artikel peserta yang cenderung tidak menghubungkan data hasil penelitian dengan teori-teori yang ada sebelumnya. Lebih lanjut, dosen muda pendidikan Fisika FTK UIN STS Jambi juga, menyorot bagian-bagian literature review yang terlalu panjang. Akan lebih baik, jika dapat dipadatkan karena jurnal pada umumnya memberikan Batasan jumlah halaman. Bukan hanya itu, Pak Fibrika bahkan memberikan masukan sangat ditetail, termasuk ide judul pada beberapa draft yang direview. 

 Peserta adalah dari Dosen dan Mahasiswa Pasca Sarjana

Di akhir kegiatan, peserta sangat antusias dengan memberikan pertanyaan dan komentar terkait kegiatan bedah artikel secara langsung tersebut. Pemateri juga berharap agar kelima artikel peserta workshop ini dapat dikawal agar dapat terbit di jurnal bereputasi tingkat nasional, bahkan internasional.

 

Comments

Popular posts from this blog

The Legend of Jambi (Narrative Text)

                                                    Gambar: http://www.ceritadongenganak.com   Once upon a time, there lived in Sumatra Island a very beautiful girl, Putri Pinang Masak. The girl was also a very kind-hearted person. This made everyone liked her so much. Many youth and princes from other countries desire her to be his wife. Nevertheless, she refused their proposals because she had not wanted to get married yet. One day, there was a very wealthy king, the king of the east kingdom, coming to her village. He proposed to marry her. Putri Pinang Masak was afraid to refuse the king’s proposal although she actually did not love the king, the ugly-faced man, at all. She knew that the king would be very angry and there would ...

The Legend of Jambi Kingdom (Narrative Text)

   Image: https://www.gambarrumah.pro/2012/10/400-gambar-kartun-rumah-adat-jambi.html Once upon a time, there were five villages, Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, and Batin Duo Belas. The villagers of those five villages lived peacefully. They helped each other. Soon, the number of villagers grew highly. The villagers thought that they needed a leader to guide them. They wanted to have a king. So, the leaders from the five villages had a meeting. They wanted to set the criteria who could be their king. "Our king should be physically strong," said the leader from Tujuh Koto. "I agree. The king should be able to protect us from the enemies, "said one leader. "Not only that. He should also be well respected by us. So, the king should be strong and have good manners," said the leader from Petajin. "Then, let’s set the criteria. I have a suggestion. The king should be strong from fire. He cannot feel the pain if we burn him," said leade...

Dari Quran hingga TOGA: Jejak Pengabdian Ridho di Ujung Desa

Foto Pribadi Kegiatan Mengajar Mengaji Langit Desa Tirta Kencana masih tampak biru bersih saat pertama kali aku menginjakkan kaki untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Mandiri. Tak ada kawan seperjuangan, tak ada posko ramai seperti yang biasa kubaca dari kisah KKN mahasiswa lainnya. Kukerta kali ini adalah tentang aku, masyarakat, dan pengabdian dalam sunyi. Kukerta Mandiri memang tak seperti KKN regular. Segalanya terasa lebih berat. Tak ada teman yang bisa diajak bertukar lelah atau ide. Semua program harus kurancang, kulobi, dan kulaksanakan sendiri. Tapi mungkin inilah pembelajaran paling sejati: bahwa nanti, saat aku kembali ke masyarakat setelah lulus, aku pun akan berjuang sendiri. Tanpa posko. Tanpa tim. Selama hampir dua bulan, Juli hingga Agustus 2025, aku mencoba menyelami denyut kehidupan desa kelahiranku dengan sudut pandang baru: seorang mahasiswa yang ingin memberi makna. Program pertama yang kulaksanakan adalah membantu Kepala Desa dalam upaya pengentasan ...