Skip to main content

Tes Kemampuan Akademik: Ujian Nasional yang Menyamar?

Gambar: Dibuat sebagai ilustrasi (Gemini AI)

Tes Kemampuan Akademik (TKA) tiba-tiba hadir di tengah dunia pendidikan kita. Pemerintah menyebut TKA bukan Ujian Nasional (UN), karena katanya tidak wajib. Alasannya: untuk standarisasi dan evaluasi pendidikan secara menyeluruh. Tetapi di mata guru, murid, dan pengamat, TKA justru tampak seperti wajah lama yang dipoles baru.

Kita masih ingat, UN dihapus dengan alasan tidak relevan lagi. Pendidikan diharapkan lebih merdeka, lebih manusiawi. Namun kini, TKA muncul mendadak, membuat banyak pihak bingung. Murid di daerah terpencil, yang baru saja beradaptasi dengan sistem tanpa UN, kini harus menghadapi ujian serentak lagi. Guru pun gagap, karena sosialisasi minim. Kebijakan yang berubah-ubah seperti ini hanya menambah beban psikologis bagi siswa.

Tidak Sejalan dengan Semangat Merdeka Belajar

Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. TKA jelas tidak sejalan dengan itu. Ujian nasional, dalam bentuk apa pun, selalu menimbulkan ketegangan massal. Murid kembali dipaksa menghafal, mengejar skor, dan mengukur diri dengan angka. Padahal, yang kita butuhkan adalah pembelajaran yang menumbuhkan karakter, kreativitas, dan kemandirian.

Saya teringat cerita seorang murid SMA di desa kecil. Ia berkata, “Pak, kami baru saja belajar dengan cara yang lebih bebas, lebih menyenangkan. Tapi tiba-tiba ada ujian besar lagi. Rasanya seperti mimpi buruk yang datang kembali.” Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa TKA tidak hanya soal kebijakan, tetapi juga soal perasaan murid yang ingin belajar dengan tenang.

Kurikulum yang Belum Sinkron

Kurikulum yang belum sinkron menjadi salah satu wajah nyata ketidakseriusan kita dalam menata pendidikan. Di satu sisi, ada sekolah yang sudah berani melangkah dengan Kurikulum Merdeka, sementara di sisi lain masih banyak yang bertahan dengan Kurikulum 2013. Ketidakteraturan ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan cermin dari kebijakan yang belum matang. Ketika fondasi kurikulum tidak seragam, maka arah pembelajaran pun kehilangan kepastian.

Ketidakadilan semakin terasa ketika ujian diseragamkan, padahal titik berangkat murid berbeda. Analogi sederhana: anak yang kursus Bahasa Inggris tiba-tiba dipaksa diuji dalam Bahasa Arab. Situasi ini bukan hanya membingungkan, tetapi juga merugikan. Murid yang seharusnya diberi ruang berkembang sesuai jalur kurikulumnya justru dipaksa berlari dengan standar yang sama. Akibatnya, ujian kehilangan makna sebagai alat ukur yang adil, dan berubah menjadi beban yang menekan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kurikulum hanya akan menjadi jargon tanpa ruh. Pendidikan membutuhkan konsistensi, bukan eksperimen yang menimbulkan ketidakpastian. Pemerintah harus berani menata kurikulum secara menyeluruh, memastikan sinkronisasi antara kebijakan, sekolah, dan evaluasi. Tanpa langkah tegas, kita hanya melahirkan generasi yang dipaksa berkompetisi dalam arena yang tidak setara. Pendidikan seharusnya menjadi jalan pembebasan, bukan panggung ketidakadilan. 

 

Status Wajib yang Membingungkan

Status wajib TKA yang tidak konsisten antara pusat dan daerah mencerminkan ambiguitas kebijakan pendidikan kita. Pemerintah pusat menyebut tidak wajib, tetapi dinas pendidikan di daerah justru cenderung mewajibkan demi menghindari risiko. Ketidakjelasan ini bukan sekadar perbedaan tafsir, melainkan tanda lemahnya koordinasi. Kebijakan yang seharusnya memberi arah justru menimbulkan keraguan.

Akibatnya, guru bingung menentukan langkah, murid cemas menghadapi ujian, dan orang tua resah melihat ketidakpastian. Pendidikan yang seharusnya menjadi ruang tumbuh penuh kepastian berubah menjadi arena ketidakjelasan. Ambiguitas ini merusak kepercayaan publik, karena kebijakan yang tidak konsisten hanya melahirkan kebingungan di lapangan. Ketika aturan tidak jelas, maka praktik pendidikan kehilangan pijakan.

Kebijakan pendidikan seharusnya hadir sebagai penuntun, bukan sumber keraguan. Pemerintah perlu menegaskan posisi dengan komunikasi yang jelas dan konsisten, agar guru, murid, dan orang tua tidak lagi terjebak dalam ketidakpastian. Kepastian adalah fondasi keadilan, dan tanpa itu, pendidikan hanya akan menjadi eksperimen yang melelahkan. Jika kebijakan mampu memberi arah yang tegas, maka pendidikan akan kembali menjadi ruang yang menumbuhkan harapan, bukan kecemasan.

Kesiapan Teknis yang Rapuh

Kesiapan teknis ujian berbasis sistem digital masih jauh dari harapan. Di Jambi, seorang guru SMA bercerita bagaimana murid-muridnya harus menghadapi server pusat yang sering down saat TKA berlangsung. Murid sudah siap mengisi soal, tetapi tiba-tiba terpental keluar. Masuk lagi, terpental lagi. Situasi ini bukan sekadar gangguan teknis, melainkan bukti nyata bahwa infrastruktur pendidikan kita belum kokoh.

Ketika ujian tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka keadilan bagi murid pun dipertaruhkan. Bayangkan, murid yang sudah menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh justru kehilangan kesempatan hanya karena sistem yang rapuh. Evaluasi pendidikan yang seharusnya menjadi tolok ukur kemampuan berubah menjadi pengalaman traumatis. Guru pun kehilangan kepercayaan pada sistem, sementara murid merasa diperlakukan tidak adil.

Jika evaluasi pendidikan dilakukan dengan sistem yang rapuh, maka hasilnya tentu tidak bisa dipercaya. Pemerintah harus berani mengakui bahwa kesiapan teknis adalah fondasi utama sebelum kebijakan dijalankan. Tanpa infrastruktur yang kuat, ujian hanya akan menjadi formalitas yang melelahkan. Pendidikan membutuhkan sistem yang dapat diandalkan, agar setiap murid diuji dengan adil dan setiap hasil benar-benar mencerminkan kemampuan.

Pendidikan seharusnya menjadi ruang yang menumbuhkan, bukan menakutkan. Namun, TKA dalam bentuknya sekarang lebih menyerupai kebijakan tambal sulam daripada solusi jangka panjang. Alih-alih menghadirkan kepastian, ia justru menambah beban psikologis bagi murid, guru, dan orang tua. Evaluasi yang seharusnya memberi arah malah berubah menjadi sumber keresahan.

Jika pemerintah sungguh ingin melakukan evaluasi menyeluruh, maka pendekatannya harus konsisten dengan semangat Kurikulum Merdeka: berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Evaluasi tidak boleh sekadar menjadi ritual administratif, melainkan harus menjadi proses yang membantu murid menemukan potensi terbaiknya. Tanpa keselarasan dengan filosofi kurikulum, ujian hanya akan menjadi alat ukur yang kering dan tidak relevan.

Tanpa perubahan mendasar, TKA hanya akan menjadi Ujian Nasional yang menyamar; dan sekali lagi gagal menjawab kebutuhan pendidikan kita. Pendidikan membutuhkan keberanian untuk meninggalkan pola lama yang menekan, dan beralih pada sistem evaluasi yang benar-benar mendukung tumbuh kembang murid. Jika kebijakan mampu berpijak pada prinsip keadilan dan kebermaknaan, maka pendidikan akan kembali menjadi ruang harapan, bukan sekadar ruang ujian.

 

Dion Ginanto,
Pengamat Pendidikan dan Dosen UIN STS Jambi

Comments

Popular posts from this blog

The Legend of Jambi Kingdom (Narrative Text)

   Image: https://www.gambarrumah.pro/2012/10/400-gambar-kartun-rumah-adat-jambi.html Once upon a time, there were five villages, Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, and Batin Duo Belas. The villagers of those five villages lived peacefully. They helped each other. Soon, the number of villagers grew highly. The villagers thought that they needed a leader to guide them. They wanted to have a king. So, the leaders from the five villages had a meeting. They wanted to set the criteria who could be their king. "Our king should be physically strong," said the leader from Tujuh Koto. "I agree. The king should be able to protect us from the enemies, "said one leader. "Not only that. He should also be well respected by us. So, the king should be strong and have good manners," said the leader from Petajin. "Then, let’s set the criteria. I have a suggestion. The king should be strong from fire. He cannot feel the pain if we burn him," said leade...

The Legend of Jambi (Narrative Text)

                                                    Gambar: http://www.ceritadongenganak.com   Once upon a time, there lived in Sumatra Island a very beautiful girl, Putri Pinang Masak. The girl was also a very kind-hearted person. This made everyone liked her so much. Many youth and princes from other countries desire her to be his wife. Nevertheless, she refused their proposals because she had not wanted to get married yet. One day, there was a very wealthy king, the king of the east kingdom, coming to her village. He proposed to marry her. Putri Pinang Masak was afraid to refuse the king’s proposal although she actually did not love the king, the ugly-faced man, at all. She knew that the king would be very angry and there would ...

Percakapan Imajiner antara Ki Hajar Dewantara dan Prof. Abdul Mu’ti

Pada suatu pagi yang cerah, Prof. Abdul Mu’ti (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah-Mendikdasmen) yang tengah menyeruput kopi di pendopo imajinasi tiba-tiba didatangi sosok yang sudah tidak asing lagi. Ki Hajar Dewantara, benar, ia muncul dengan senyuman khas, berpeci hitam dengan jas putih tanpa dasi. Meskipun baru pertama kali berjumpa, mereka sungguh terlihat sangat akrab. Duduk bersila, di atas tikar sederhana, dengan sepiring ubi rebus dan segelas kopi hitam. Prof. Mu’ti menawarkan kopi pada Ki Hajar, dan langsung disetujui, kopi hitam tanda gula. Mereka lalu bercengkrama, bernostalgia tentang kejayaan pendidikan tanah air, termasuk berdiskusi tentang kebijakan pendidikan akhir-akhir ini. Ujian Nasional yang Kembali Hidup Ki Hajar:  Tuan, Menteri, kudengar engkau hendak menghidupkan kembali ujian nasional. Apakah benar anak-anak kita kembali diadili dengan tiga hari ujian? Prof. Mu’ti (berusaha tenang):  Betul Ki. Banyak pihak mendesak adanya tolak ukur nasional....