Skip to main content

Silaturahmi Mahasiswa Thailand di Jambi: Seimbangkan Akademik dan Non-Akademik untuk Sukses Studi

Mahasiswa asal Pattani, Thailand

Jambi, 6 Februari 2025 — Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai acara silaturahmi dan halal bihalal yang digelar bersama mahasiswa internasional asal Pattani, Thailand. Acara ini berlangsung di kediaman Dr. Dion Ginanto, Koordinator Pusat Layanan Kerja Sama Internasional (PLKI) LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

Selain untuk mempererat hubungan antar mahasiswa dan pihak kampus, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai ajang diskusi santai seputar kiat sukses menyelesaikan studi tepat waktu. Para mahasiswa berbagi pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi selama menjalani perkuliahan di Indonesia, baik dalam aspek akademik maupun non-akademik.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Dion Ginanto menekankan pentingnya keseimbangan antara kegiatan akademik dan non-akademik. “Keberhasilan studi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh keterampilan sosial, manajemen waktu, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru,” ujarnya.

Ia juga berharap agar silaturahmi seperti ini dapat terus berlangsung secara rutin. “Kami ingin menjadikan pertemuan seperti ini sebagai sarana diskusi yang konsisten, agar mahasiswa internasional merasa lebih nyaman, terfasilitasi, dan termotivasi selama menjalani pendidikan di UIN STS Jambi,” tambah Dion.

Kegiatan ini diakhiri dengan ramah tamah dan makan bersama, menambah keakraban antara mahasiswa dan pembina PLKI dalam suasana kekeluargaan yang hangat.

Comments

Popular posts from this blog

The Legend of Jambi (Narrative Text)

                                                    Gambar: http://www.ceritadongenganak.com   Once upon a time, there lived in Sumatra Island a very beautiful girl, Putri Pinang Masak. The girl was also a very kind-hearted person. This made everyone liked her so much. Many youth and princes from other countries desire her to be his wife. Nevertheless, she refused their proposals because she had not wanted to get married yet. One day, there was a very wealthy king, the king of the east kingdom, coming to her village. He proposed to marry her. Putri Pinang Masak was afraid to refuse the king’s proposal although she actually did not love the king, the ugly-faced man, at all. She knew that the king would be very angry and there would ...

The Legend of Jambi Kingdom (Narrative Text)

   Image: https://www.gambarrumah.pro/2012/10/400-gambar-kartun-rumah-adat-jambi.html Once upon a time, there were five villages, Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, and Batin Duo Belas. The villagers of those five villages lived peacefully. They helped each other. Soon, the number of villagers grew highly. The villagers thought that they needed a leader to guide them. They wanted to have a king. So, the leaders from the five villages had a meeting. They wanted to set the criteria who could be their king. "Our king should be physically strong," said the leader from Tujuh Koto. "I agree. The king should be able to protect us from the enemies, "said one leader. "Not only that. He should also be well respected by us. So, the king should be strong and have good manners," said the leader from Petajin. "Then, let’s set the criteria. I have a suggestion. The king should be strong from fire. He cannot feel the pain if we burn him," said leade...

Dari Quran hingga TOGA: Jejak Pengabdian Ridho di Ujung Desa

Foto Pribadi Kegiatan Mengajar Mengaji Langit Desa Tirta Kencana masih tampak biru bersih saat pertama kali aku menginjakkan kaki untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Mandiri. Tak ada kawan seperjuangan, tak ada posko ramai seperti yang biasa kubaca dari kisah KKN mahasiswa lainnya. Kukerta kali ini adalah tentang aku, masyarakat, dan pengabdian dalam sunyi. Kukerta Mandiri memang tak seperti KKN regular. Segalanya terasa lebih berat. Tak ada teman yang bisa diajak bertukar lelah atau ide. Semua program harus kurancang, kulobi, dan kulaksanakan sendiri. Tapi mungkin inilah pembelajaran paling sejati: bahwa nanti, saat aku kembali ke masyarakat setelah lulus, aku pun akan berjuang sendiri. Tanpa posko. Tanpa tim. Selama hampir dua bulan, Juli hingga Agustus 2025, aku mencoba menyelami denyut kehidupan desa kelahiranku dengan sudut pandang baru: seorang mahasiswa yang ingin memberi makna. Program pertama yang kulaksanakan adalah membantu Kepala Desa dalam upaya pengentasan ...