Skip to main content

UIN STS Jambi dan UNIMY Malaysia Gelar Seminar Internasional Bahas Kajian Melayu


Rektor UNIMY saat memberikan sambutan 

Cyberjaya, 2 Agustus 2022 – Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin (UIN STS) Jambi menggelar Seminar Internasional bersama University Malaysia of Computer Science and Engineering (UNIMY), bertempat di Auditorium UNIMY, Malaysia.

Seminar ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara UIN STS Jambi dan UNIMY, yang bertujuan memperkuat kolaborasi akademik lintas negara. Fokus utama seminar ini adalah membedah kajian budaya dan identitas Melayu yang berkembang di Jambi dan Malaysia.

Rektor UNIMY bertindak sebagai salah satu pembicara utama dalam kegiatan ini, bersama Dr. Dion Ginanto, perwakilan dari Pascasarjana UIN STS Jambi. Kedua narasumber mengangkat tema-tema seputar warisan budaya Melayu, dinamika sosial, serta tantangan pelestariannya di era digital.

Acara ini dihadiri oleh mahasiswa Pascasarjana UIN STS Jambi, mahasiswa UNIMY, Rektor dan Wakil Rektor UNIMY, Direktur Pascasarjana UIN STS Jambi, serta Ketua International Office UIN STS Jambi.

Melalui seminar ini, diharapkan hubungan akademik antara kedua institusi semakin erat dan memberikan kontribusi konkret dalam pengembangan kajian Melayu secara global.


Comments

Popular posts from this blog

The Legend of Jambi Kingdom (Narrative Text)

   Image: https://www.gambarrumah.pro/2012/10/400-gambar-kartun-rumah-adat-jambi.html Once upon a time, there were five villages, Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, and Batin Duo Belas. The villagers of those five villages lived peacefully. They helped each other. Soon, the number of villagers grew highly. The villagers thought that they needed a leader to guide them. They wanted to have a king. So, the leaders from the five villages had a meeting. They wanted to set the criteria who could be their king. "Our king should be physically strong," said the leader from Tujuh Koto. "I agree. The king should be able to protect us from the enemies, "said one leader. "Not only that. He should also be well respected by us. So, the king should be strong and have good manners," said the leader from Petajin. "Then, let’s set the criteria. I have a suggestion. The king should be strong from fire. He cannot feel the pain if we burn him," said leade...

The Legend of Jambi (Narrative Text)

                                                    Gambar: http://www.ceritadongenganak.com   Once upon a time, there lived in Sumatra Island a very beautiful girl, Putri Pinang Masak. The girl was also a very kind-hearted person. This made everyone liked her so much. Many youth and princes from other countries desire her to be his wife. Nevertheless, she refused their proposals because she had not wanted to get married yet. One day, there was a very wealthy king, the king of the east kingdom, coming to her village. He proposed to marry her. Putri Pinang Masak was afraid to refuse the king’s proposal although she actually did not love the king, the ugly-faced man, at all. She knew that the king would be very angry and there would ...

Percakapan Imajiner antara Ki Hajar Dewantara dan Prof. Abdul Mu’ti

Pada suatu pagi yang cerah, Prof. Abdul Mu’ti (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah-Mendikdasmen) yang tengah menyeruput kopi di pendopo imajinasi tiba-tiba didatangi sosok yang sudah tidak asing lagi. Ki Hajar Dewantara, benar, ia muncul dengan senyuman khas, berpeci hitam dengan jas putih tanpa dasi. Meskipun baru pertama kali berjumpa, mereka sungguh terlihat sangat akrab. Duduk bersila, di atas tikar sederhana, dengan sepiring ubi rebus dan segelas kopi hitam. Prof. Mu’ti menawarkan kopi pada Ki Hajar, dan langsung disetujui, kopi hitam tanda gula. Mereka lalu bercengkrama, bernostalgia tentang kejayaan pendidikan tanah air, termasuk berdiskusi tentang kebijakan pendidikan akhir-akhir ini. Ujian Nasional yang Kembali Hidup Ki Hajar:  Tuan, Menteri, kudengar engkau hendak menghidupkan kembali ujian nasional. Apakah benar anak-anak kita kembali diadili dengan tiga hari ujian? Prof. Mu’ti (berusaha tenang):  Betul Ki. Banyak pihak mendesak adanya tolak ukur nasional....