Tuesday, November 26, 2013

Kepala Sekolah: Jabatan Penting yang Terlupakan



Selama ini kita masih terkesan meraba-raba dalam kegelapan terhadap lemahnya mutu keluaran peserta didik. Pemerintah dalam hal ini kementrian pendidikan selalu terpaku pada peningkatan guru atau mengandalkan bongkar pasang kurikulum. Tidak sedikit dana yang digelontorkan pemerintah pusat dan daerah untuk sekedar memberikan pelatihan kepada guru-guru. Akan tetapi pemerintah terkesan lupa bahwa pelatihan masif yang selama ini diadakan tak pernah dievaluasi. Pelatihan-pelatihan untuk guru terkesan sekedar fromalitas belaka, atau untuk menghabiskan anggaran pendidikan. Bahkan, untuk memberikan kesan bahwa pemerintah memperhatikan kualitas guru, banyak sekali pelatihan-pelatihan diadakan di hotel berbintang lima.
Selain memberikan peltihan kepada guru, Kementrian Pendidkan juga mengupayakan reformasi pendidikan dengan mengganti kurikulum KTSP dengan Kurikulum 2013. Namun, sekali lagi belum ada kejelasan tentang kesiapan pemerintah dalam sosialisasi pergantian kurikulum ini. Fokus pemerintah untuk memberikan perhatian kepada guru, juga pada kurikulum tidak salah; akan tetapi pemerintah terkesan lupa bahwa ada elemen penting yang selama ini terkesan dikesampingkan: kepemimpinan kepala sekolah.
Kepemimpinan kepala sekolah adalah salah satu faktor penting untuk memajukan pendidikan. Akan tetapi, unsur penting ini belum mejadi konsentrasi pemerintah saat ini. Padahal, guru tidak akan bisa mengajar dengan baik jika tidak mempunyai kepemimpinan kepala sekolah yang bisa menginspirasi mereka untuk mengajar secara profesional. Kurikulum di sekolah pun tak akan bisa diterapkan dengan sempurna, apabila kepala sekolah tidak cekatan dalam memimpin dan membimbing guru-guru dalam mengaplikasikan pengajaran sesuai tuntutan kurikulum. Spillane (2004) menegaskan bahwa di mana ada sekolah yang berkualitas, pasti di dalamnya tedapat kepala sekolah yang berkualitas pula. Seberapa banyakpun guru-guru hebat di sekolah itu, jika tidak ada kepemimpinan kepala sekolah yang efektif, maka tidak akan terlahir sekolah yang bermutu.
Selama ini, kita selalu mengartikan kepemimpina kepala sekolah itu lebih pada kepemimpian birokrasi. Kita terkesan lupa bahwa ada tugas dasar kepala sekolah yang lain: Instructional leader, dan Community Leader.  Nah yang menjadi kecondongan kita di Indonesia adalah, pada tugas kepala sekolah sebagai seorang bureaucrat dan community leader. Kepala sekolah hanya fokus pada bagaimana mampu mencari sumber dana untuk membiayai keperluan sekolah, menjadi pimpinan birokrasi surat menyurat, atau menjadi perwakilan sekolah untuk rapat-rapat dengan dinas pendidikan, dan yang lebih penting mampu memimpin rapat dengan komite sekolah untuk meminta uang sumbangan pembanguan. Tapi pernah tidak kita berfikir bahwa tugas kepala sekolah yang paling utama adalah sebagai instructional leader?. Yakni memimpin para guru dan siswa untuk menciptakan susasana belajar mengajar yang kondusif. Instructional leader atau learner leader, berarti bahwa semua unsur di dalam sekolah termasuk guru, siswa dan kepala sekolah dalah pembelajar.
Kondisi yang terjadi di negara kita saat ini adalah, siswalah yang dipaksa untuk belajar. Akan tetapi, guru tidak pernah mendapatkan hak mereka sebagai seorang pembelajar pula. Logikanya begini, ilmu itu selalu berkembang, pengetahuan dan cara berfikir anak didik dari tahun ke tahun itu selalu berubah; nah apabila guru tak pernah dilatih untuk mengikuti perkembangan zaman, hasilnya akan sangat berbahaya. Akan terjadi fenomena seperti ini: “Kok anak didik jaman sekarang berbeda dengan jaman kita dulu ya?”, atau “Kok murid-murid sekarang tidak menghargai guru ya?” Terhadap fenomena seperti ini, yang selalu disalahakan adalah murid. Dalih-dalih tak beralasanpun dikeluarkan: mulai dari menyalahkan orang barat, sampai pada menyalahkan internet atau televisi.
Padahal nyatanya adalah, guru tidak pernah mendapatkan proses yang dinamakan maintenance. Coba kita evaluasi, adakaah pernah kepala sekolah melakukan classroom walkthrough (pengawasan kelas): yakni kepala sekolah masuk ke kelas (sendiri atau dalam grup), baik secara rahasia atau sudah diberitahu sebelumnya untuk mengevaluasi kualitas guru. Atau pernah tidak, kepala sekolah memimpin Professional Learning Community (PLC) yaitu semacam pelatihan dalam lingkup kecil namun dilakukan secara rutin. Pelatihan ini bisa dilakukan pada guru satu rumpun, atau lintas rumpun.  Komunias belajar kecil dalam lingkup sekolah itu sangat penting untuk membudayakan kultur kerjasama antar guru, dan kultur belajar untuk guru.
Logikanya begini, bagiaman mungkin kualitas guru bisa dijamin jika tidak ada yang mengawasi kualitas mereka. Guru dibiarkan saja mengajar di kelas, masalah guru sudah sesuai standar atau belum, bukan urusan kepala sekolah. Pokoknya asal sudah PNS itu berarti gurunya udah sangat mahir, sehingga tidak perlu ada observasi kelas untuk melihat kondisi real yang dilakukan guru di kelas. Ditambah lagi pelatihan yang didapat guru hanya dalam sekala masif, yaitu seminar dalam jumlah besar yang diadakan oleh dinas pendidikan. Di mana seminar tersebut dalam satu kelas berjumlah 40-100 orang, dengan satu atau dua pemateri. Adakah yang berani menjamin, peserta seminar akan memperhatikan pemateri, atau malah peserta hanya datang untuk menerima uang transportasi? Dalam tulisan ini saya akan membedah sedikit tentang fungsi kepala sekolah sebagai learner leader atau instructional leader.
Apa itu Learner Leader/Instructional Leader?
Nancy Colflesh seorang pakar kepemimpinan sekolah di Amerika Serikat, yang juga sebagai dosen saya di dua mata kuliah (Leader Teacher Learning dan School Leadership Internship) selalu menegaskan, bahwa semua orang di dalam sekolah adalah pembelajar: siswa adalah pembelajar, staff tata usaha adalah pemebelajar, guru adalah pemebelajar, bahkan kepala sekolah itu sendiri adalah pembelajar. Dalam hal ini, kepala sekolah berfungsi sebagai pemimpin dalam menjalankan fungsi-fungsi pembelajaran. Termasuk berdiri di barisan terdepan dalam memimpin guru untuk selalu belajar.
Di Amerika saat ini tengah digenjot program PLC. Dufour, Dofour & Eaker (2012) mendefinisikan PLC sebagai kegiatan yang di dalamnya para guru berkomitmen untuk bekerja secara kolaboratif dan berkesinambungan dalam melakukan proses belajar untuk meningkatkan kemampuan mengajar dan pedagogic, dengan tujuan akhir untuk meningkatkan prestasi peserta didik. PLC sangat efektif untuk menciptakan semangat untuk bekerja dalam tim. PLC biasanya dilakukan dalam kelompok kecil; di mana untuk tahap awal akan ada seorang coach (pelatih) untuk mengarahkan agar kegiatan ini berjalan dengan baik. Coah inilah yang harus diperankan oleh kepala sekolah, atau wakil kepala sekolah. Kegiatan PLC biasanya dilakukan minimal satu bulan sekali. Dalam PCL ini semua saling berbagi: tentang perencanaan pengajaran, proses pengajaran, serta proses evaluasi pengajaran.
Dalam PLC baisanya diadakan kegiatan semacam classroom walkthrough. Classroom Walkthorugh adalah kegiatan di mana sekelompok guru mengadakan observasi terhadap satu orang guru, selama maksimal 15 menit yang kemudian mengadakan diskusi untuk menberikan feedback yang sifatnya membangun. Classroom Walkthrough biasanya dilakukan secara bergiliran, yakni siapa yang diobservasi dan siapa yang mengobservasi. Dapat dibayangkan betapa hebatnya kualitas guru, jika minimal setiap bulan ada yang memberikan evaluasi tentang kualitas pengajaran. Kegiatan ini dapat memotivasi guru, karna guru akan merasa bahwa mereka tidak bekerja sendirian dalam meningkatkan potensi siswa. Kegiatan observasi kelas ini dapat juga membantu mereka yang masih mencari-cari tahu bagaimana cara mengajar yang efektif.
Kelemahan guru-guru di negara kita saat ini adalah, bahwa masing-masing kita sudah merasa bisa, sehingga tidak mau lagi mengadakan sharing atau bertanya jika mempunyai permasalahan. Terkadang, guru-guru juga merasa malu jika harus berkonsultasi kepada teman, karna takut diketawakan atau dianggap belum bisa mengajar. Dengan adanya program PLC yang dipimpin kepala sekolah atau wakil kepala sekolah, akan dapat mengikis ego atau rasa malu yang dimiliki oleh seorang guru.
Sebenarnya masih banyak lagi unsur-unsur fungsi kepala sekolah sebagai learner leader/instructional leader. Namun dua kegiatan ini (PLC dan classroom walkthrough) dapat mewakili aktivitas lain untuk mebiasakan guru bekerja secara kolaboratif dalam mencapai tujuan dan visi sekolah.
Untuk bisa menajdi kepala sekolah yang mampu menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran (instructional leader), tentunya dibutuhakn prasayarat tertentu. Setidaknya ada tiga kemampuan dasar yang harus dimiliki kepala sekolah menurut Glickman (2011): prasyarat pengetahuan, prasyarat skill teknis, dan prasyarat kemampuan interpersonal. Prasyarat pengetahuan berarti kepala sekolah harus memiliki pengetahuan tentang: pedagogic, pendektan pengajaran, metodologi pengajaran, serta perkembangan perserta didik. Pengetahuan interpersonal berarti, kepala sekolah harus mampu melakukan pendekatan pada guru, siswa dan pegawai sehingga tercipta susasana kekeluargaan di dalam sekolah. Pengetahaun skill teknis berarti, kepala sekolah harus mempunyai wawasan dan kemampuan di bidang Information, Communication and Technology (ICT) serta kemampuan mengolah data (data sekolah, data sisiwa, dan data proses pengajaran) sehingga tercipata budaya pengambilan keputusan yang berdasarkan pada data.
Ternyata untuk menjadi kepala sekolah itu tidak mudah ya? Minimal seorang kepala sekolah itu harus mampu menjadi pemimpin dalam pembelajaran, pemimpin dalam birokrasi sekolah, dan pemimpin lingkungan sekitar. Yang saya bahas dalam tulisan kali ini baru kulit luarnya dari salah satu tugas kepala sekolah sebagai instructional leader. Kenyataan yang ada di lapangan adalah, pemerintah terkesan menganggap sepele proses perekturan kepala sekolah. Proses perekrutan selama ini terkesan tertutup dan hanya mereka yang dekat dengan kepala daerah atau mereka yang mampu memberikan uang pelicin yang bisa menjadi kepala sekolah. Guru yang mempunyai kemampuan leadership dan mempunyai idealisme yang tinggi, akan sangat sulit sekali menjadi kepala sekolah. Dari laporan wartawan senior Tempo, Nanang Surisna (2009), melaporkan bahwa dalam beberapa kasus, untuk menajadi kepala Sekolah di Jakarta, seorang calon kepsek SMA harus menyiapkan Rp. 50 juta, kepala sekolah SMP Rp. 60 juta, dan Rp. 600 juta untuk menjadi kepala sekolah SMA (Dapat dicek di: http://www.tempo.co/read/news/2009/01/28/058157279/Departemen-Pendidikan-Dituding-Paling-Banyak-Lakukan-Suap . Kasus serupa juga terjadi di Jawa tengah, di mana ada calon kepala sekolah yang diwajibkan membayar Rp. 60 juta dari oknum pemerintah daerah untuk memuluskan proses seleksi (Silahakn dicek di: http://willyediyanto.wordpress.com/2013/01/05/menjadi-kepala-sekolah-baru/). Jika fakta di lapangan berbicara jabatan kepala sekolah adalah jabatan yang dapat diperjaul belikan, maka tak akan mungkin seorang kepala sekolah mampu memenuhi minimal 3 syarat utama yang dikemukanan oleh Glickman. Hasilnya, sekolah akan dijadikan sebagai ladang memperoleh proyek, walhasil proses belajar mengajar tak lagi menjadi fokus utama kepala sekolah.
            Adanya rencana pemerintah DKI Jakarta dengan menginisiasi program lelang jabatan kepala sekolah, patut diacungi jempol. Keberanian Pemda DKI menggebrak budaya korup di dunia pendikan, akan menjadi awal kebangkitan kualitas pendidkan di sekolah. Karna tak bisa dipungkiri lagi, bahwa kepala sekolah adalah jabatan penting yang terkesan dilupakan oleh pemerintah. Padahal, tanpa ada kepala sekolah yang berkualitas tak akan teripta iklim sekolah yang kondusif. Jika iklim sekolah kondusif tidak tercipta tak akan terlahir guru yang berkualitas. Jika guru berkualitas tidak muncul maka keluaran siswa yang berkualitas puan tak akan ada. So, mari kita mulai memikirkan kualitas kepala sekolah untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik.




Friday, July 12, 2013

AGAR MEREKA* JATUH HATI PADA ANDA


Kuliah ke luar negeri, dapat beasiswa? Apa mungkin? Aku kan baru saja lulus kuliah? Bukannya dapat beasiswa itu harus punya pengalaman kerja dulu?
Atau pertanyaan ini:
Dapat beasiswa ke luar negeri? itu kan untuk mereka dari pulau Jawa saja. Untuk kita-kita di pelosok ini mana bisa bersaing dengan mereka?
Atau pertanyaan ini:
Aku kan cuman seorang guru, beaiswa ke luar negeri itu kan cuman bagi dosen saja. Apa bisa?

            Halo para pembaca semua… apa kabar nih? Ketika membaca tulisan ini pasti Anda sedang berburu informasi kuliah ke luar negeri, hayoooo ngaku? Kalau iya, Anda sedang berada pada fase yang saya alami beberapa tahun yang lalu sebelum saya mendapat beasiswa Master dari PRESTASI-USAID. Dan oleh karenanya, saya bisa memastikan pertanyaan-pertanyaan di atas pernah terbesit di processor otak kita. Terkadang, pertanyaan-pertanyaan yang kecil dan sepele itu disadari atau tidak adalah virus yang sangat berbahaya yang mampu mematikan saraf semangat yang bekerja di dalam dunia bawah sadar kita, dan pada akhirnya menjadikan kita urung untuk hunting beasiswa (Jika kita tidak bisa mengatasinya dengan baik).
            Saya kali ini ingin berbagi pengalaman saya mendapatkan beasiwa ke Amerika Serikat.  Sebelumnya saya berkenalan dulu ya; boleh kan? Nama saya Dion, lengkapnya Dion Efrijum Ginanto. Saya adalah seorang guru SMA, di salah satu sekolah menengah di Jambi. Agak aneh sih memang, seorang guru dari Jambi bisa mendapatkan beasiswa yang sangat bergengsi (menurut saya, he..he..he..). Karena dari pengamatan saya selama ini, mereka yang mendapat beasiswa adalah para dosen, atau pegawai di kementrian atau BUMN pusat, atau mereka para aktifis NGO. Jarang sekali saya mendengar ada guru mendapat beasiswa S2 ke luar negeri. Juga masih dari hasil observasi saya selama ini, mereka yang mendapat beasiswa itu rata-rata jebolan kampus favorit di pulau Jawa, hal ini dikarenakan mereka telah terbiasa dengan dunia TOEFL dan budaya akademik yang berskala internasional. Not to mention, mereka mempunyai kesempatan mendapatkan informasi lebih luas ketimbang mereka yang berdomisili di luar Jawa. Maaf ini saya bukan berniat sukuisme, rasisme atau sampai separatisme, saya hanya ingin berbagi motivasi sesama teman-teman yang selama ini tidak Pe-De untuk bertarung. Oh iya, hampir lupa, saya mendapatkan beasiswa PRESTASI-USAID (dulu bernama HICD-USAID), dan dinyatakan lulus pada tahun 2010 tepat di hari ulang tahun saya 04 April (What a nice birthday gift ya…). Sekarang saya belajar di Michigan State University, Jurusan K-12 Educational Administration.
            Teman-teman semuanya pasti pernah mendengar tentang beasiswa PRESTASI-USAID. Di mata saya, beasiswa ini sangat ideal atau bahkan bisa dikatan yang paling ideal bagi para scholarship seekers. PRESTASI tidak hanya menitik beratkan pada kemapuan TOEFL atai IELTS semata, tetapi lebih pada mereka yang berpotensi untuk menjadi pemimpin di masa depan. Padahal selama ini sponsor beasiswa selalu mematok TOEFL yang sangat tinggi, dan itu tidak memungkinkan bagi para calon pemimpin dari daerah yang mereka sama sekali masih awam tentang TOEFL atau IELTS. Jika dianalogikan, persyaratan TOEFL atau IELTS yang tinggi itu, sama dengan kebijakan Kemendiknas yang memukul rata standar kelulusan Ujian Akhir Nasional, tanpa peduli mereka dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi atau Papua. Tapi PRESTASI berani memberi pendekatan yang berbeda, tim outreach mereka mendatangi provinsi-provinsi yang selam ini belum begitu terbiasa mengikuti test beasiswa. Metode jemput bola ini sekali lagi, belum pernah dipraktekkan oleh sponsor beasiswa selain PRESTASI.
Jadi teman-teman semuanya, jangan pernah minder dengan nilai TOEFL Anda yang masih rendah, jangan lagi takut jika Anda adalah putra daerah, dan jangan juga pesimistis karena Anda adalah fresh graduate, karena semua itu ada rahasia dan kuncinya. Semua prasangka itu hanyalah bayang-bayang yang sebenarnya bisa kita bunuh sendiri. Asal kita benar-benar yakin pada diri kita, yakin pada pertolongan Allah, dan mau bekerja keras, cerdas dan ikhlas. Sekali lagi pada tulisan ini, saya akan berbagi tips sukses meraih beasiswa PRESTASI. Saya akan membagi tips sukses ini menjadi tiga bagian: pra-, in-, dan pasca-.
1.     Pra-Beasiswa
Beasiwa PRESTASI dapat dikunjungi di www.prestasi-iief.org. Jadi yang ingin mendalami tentang visi dam misi dari USAID dapat diresearch di website ini. Ada beberapa langakah yang harus dilakukan pada tahap pra-beasiswa:
a.     Lakukan research tentang situs beasiswa tersebut. Termasuk cari facebook groupnya.

Setelah membuka website ini, teman-teman akan disuguhkan pada beberapa gambar narsis para penerima beasiswa. Memang sih pada foto-foto itu terlihat seperti artis-artis dadakan, tapi jangan salah di balik wajah riang mereka, tersimpan potensi dahsyat untuk menjadi pemimpin Indonesia ke depan. Di website ini, kita juga akan disuguhkan syarat-syarat (ini yang paling penting) untuk apply beasiswa, beberapa jurusan yang dibuka, tanggal penerimaan, cerita-cerita menarik dari para scholars, dll. Pokoknya, dengan menjadikan website ini sebagai sasaran utama searching gak bakalan rugi deh. Setelah itu, gabung atau like saja facebook groupnya, yakinlah tidak akan rugi untuk ngehit like pada fb group PRESTASI.

b.      Perluas network dengan para PRESTASI Scholars dan non PRESTASI Scholars.

Setelah Anda hit like pada FB group, Anda sedikit banyak pasti akan tahu beberapa scholars peraih beasiswa ini. Nah jangan takut atau sungkan untuk add friends mereka, kalau misalnya udah di add tidak di approve-approve, langsung aja kirim ke inbox mereka, bahwa Anda ingin berkonsultasi tentang beasiswa PRESTASI. Saya yakin mereka baik-baik kok. Nah, berguru dengan para PRESTASI scholars adalah cara yang paling praktis untuk mendapatkan ilmu pelet secara gratis. Jadi, Anda tak perlu mendatangi eyang Subur untuk mendapatkan beasiswa ini, cukup berkonsultasi pada kakak-kakak senior.
Selain mengembangkan jaringan dengan PRESTASI scholars, Anda tidak boleh cuek dengan orang lain. Atau semacam pilih-pilih teman, karena tekadang orang yang tidak kita harapkan malah akan memberi sumbangsi positif atau ternyata mereka memberikan segudang informasi tentang beasiswa. Intinya bergaulah dengan siapa saja. Nah yang peling penting, Anda juga harus mulai ngelist Empat orang yang bisa memberikan rekomendasi kepada Anda untuk dijadikan surat sakti untuk melunakkan hati penyeleksi beasiswa di Jakarta. Siapa saja mereka? Mereka bisa Advisor Anda sewaktu kuliah, Dosen Anda (Ketua Jursan, Pembantu Dekan, Dekan, Pembantu Rektor, atau Rektor), Pimpinan di tempat kerja Anda (Direktur, Manajer, Kepala Dinas, Kabid, Karo, Kepala Sekolah, dll), Direktur NGO/Yayasan (Jika anda aktif di NGO). Pastikan mereka adalah orang-orang yang mengerti Anda, dan mereka adalah orang yang mempunyai pengaruh dan peran di lingkungan mereka. Surat rekomendasi dari mereka adalah penting, karena dapat menggambarkan tentang siapa Anda, dan seberapa potensialnya Anda.

c.      Berlatih TOEFL

Berlatih TOEFL itu tak harus ikut kursus. Sekarang sudah banyak buku-buku berkualitas yang dijual dipasaran. Juga Anda bisa berguru pada video-vidoe tutorial pada youtube, dan alamat website lainnya. Intinya modal bahasa Inggris yang Anda kantongi selama minimal 6 tahun itu (SMP-SMA, jika Anda SD sudah belajar bahasa Inggris, berari lebih dari 6 tahun) sudah cukup untuk dijadikan modal awal memperoleh nilai yang mumpuni. Nah khusus untuk beasiswa PRESTASI, syarat minimal TOEFLnya adalah 450. Jadi saya yakin dengan berbekal belajar tekun dengan membeli buku atau via internet, InsyaAlloh bisa mencapai 450. Sekali lagi, harus bekerja keras, cerdas dan ikhlas. Saya dulu waktu apply beasiswa ini, TOEFL saya tergolong rendah, hanya 503.

d.     Berlatih menulis essay beasiswa

Sebenarnya ini adalah bagian terpenting dalam menembus halangan dan rintangan berat seleksi beasiswa. Menurut bocoran dari sumber terpercaya, mereka dapat melihat keseriusan seorang pelamar dan prospek ke depan seorang pelamar itu bisa terbaca dari Essay beasiswa. Sebenarnya inti dari essay beasiswa itu memperkenalkan SIAPA SEBENARNYA ANDA, APA YANG SEDANG ANDA LAKUKAN, DAN APA KONTIBUSI NYATA YANG AKAN ANDA BERIKAN PADA SEKELILING ANDA JIKA MENDAPAT BEASISWA INI. Nah dalam menulis essay, Anda harus jujur, tidak boleh menjiplak essay orang lain, dan harus terlihat natural. Berikan sesuatu yang unik, yang orang lain belum memikirkan untuk melakukannya. Anda bisa mencari contoh essay beasiswa ini dari internet, ada banyak sekali; tapi sekali lagi, jika Anda mencontek pasti akan ketahuan.

e.     Aktif di organsiasi sosial dan usahakan aktif bekerja part time saat mahasiswa.

Again, beasiswa PRESTASI bukan untuk mereka yang punya TOEFL selangit tapi tidak punya kontribusi sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu, jika semenjak mahasiswa Anda aktif di organisasi kampus dan di luar kampus, semacam LSM atau yayasan yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan; Anda sudah mendapat nilai plus. Kegiatan kemasyarakatn itu misalnya: Anda mengajar anak-anak jalanan, menjadi volunteer di Panti Asuhan, atau menjadi tenaga sukarela untuk suku yang masih tinggal di hutan, atau kegiatan pelestarian lingkungan, isu gender, isu minoritas, dll. Atau jika Anda sudah punya pengalaman bekerja ketika masih kuliah, seperti mengajar di Sekolah, bimbel, lembaga penelitian, atau malah sudah pernah membuka usaha sendiri, atau bekerja di badan usaha lainnnya, tentu Anda sudah punya histori riwayat kerja. Sehingga, pun meski Anda baru lulus S1, dengan sejarah kegiatan sosial dan pengalaman kerja yang Anda lakukan saat kuliah, tentu Anda tidak perlu menunggu 2 tahun untuk melamar beasiswa. Para penyeleksi pasti sudah memberikan poin tambahan untuk Anda.

f.      Merapikan dan membuat CV lebih hidup.

Tulis apa yang pernah Anda lakukan yang bisa menjadikan daya saing untuk diri Anda di CV. Contoh: Anda pernah menulis opini di koran: CATAT; Anda pernah menerbitkan buku: CATAT, Anda menjadi Volunteer pada kegiatan sosial: CATAT; Anda mempunyai pengalaman bekerja: CATAT; Anda pernah menjadi pemateri, meski di seminar-seminar atau konferensi tingkat mahasiswa: CATAT; Anda pernah menjadi moderator: CATAT. Jadi intinya, ketika Anda saat kuliah aktif menulis, aktif di kegiatan sosial, dan aktif menyibukkan diri bekerja untuk memberikan penaguruh pada lingkungan sekitar Anda, maka itu bisa menjadi kredit poin pada Curriculum Vitae Anda.
2.     In-beasiswa
a.     Teliti dalam mengisi/membuat berkas lamaran.
Ini biasanya yang sering diabaikan oleh pelamar. Hal-hal kecil yang mestinya tidak perlu dilakukan, sering kali dihiraukan. Akibatnya, para pelamar banyak yang gagal gara-gara hal-hal sepele. Contohnya, 1. Berkas-berkas lamaran tidak diurutkan sesuai urutan yang telah ditentukan; 2. Lupa mencantumkan KTP; 3. Mengisi formulir lamaran dengan tinta yang berbeda warna, atau memakai tulisan yang susah dibaca; 4. Mengirimkan berkas pakai perangko Rp. 1.500, sehingga sampainya 2 bulan; 5. Rekomendasi diminta empat, hanya diberi dua; 6. Sertifikat TOEFL yang diminta ITP yang dikirim TOEFL Prediction; 7. Menulis alamat email salah/asal-asalan, dan hal-hal kecil lainya yang dapat dapat mengganggu konsentrasi tim penyeleksi, akibatnya, berkas Anda langsung masuk tong sampah. Intinya, benar-benar teliti persyartan di website, jangan sampai ada satu saja yang menyimpang dari persyaratan itu. Ingat beasiswa ini selalu diikuti oleh lebih dari 1000 pelamar, dan yang diambil hanya 35 orang. So, silahkan Anda renungkan sendiri.
b.     Banyak-banyak berdo’a.
Setelah Anda mengirimkan berkas (Usahakan pakai paket kilat khusus yang satu/dua hari sampai) maka sebagai manusia yang tak punya kuasa, berdoalah pada TUHAN Yang Maha Kuasa. Karna tidak ada satupun daun yang jatuh di muka bumi tanpa ijin dari Allah SWT. Oleh sebab itu,  jika benar-benar ingin mendapat beasiswa ke luar negeri, maka tidak ada tempat lain untuk meminta selain kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Juga, jangan lupa untuk rajin-rajin meminta didoakan oleh siapa saja, kepada orang tua yang paling utama, pada anak kecil, kepada teman sebaya atau kepada teman-teman Anda yang lebih dewasa. Karna kita tidak akan pernah tahu, dari beberapa orang yang kita mintakan doanya, ternyata ada satu di antara mereka yang dikabulkan oleh Tuhan, who knows, ya kan?

c.      Back-up file
Membuat back up file itu perlu, bukannya tidak percaya pada jasa pengiriman di tanah air. Tapi membuat foto kopian dari apa yang sudah Anda kirimkan itu sangat penting, karna jika ternyata paket Anda tidak sampai ke alamat, Anda masih punya dokumen untuk jaga-jaga. Nah, jangan lupa untuk cross check dengan cara menelpon pihak PRESTASI, apakah berkas Anda sudah sampai. Jika mereka sudah mengatakan “iya sudah kami terima” maka, Anda sudah melewati fase awal penjaringan.

3.     Pasca-Beasiswa
a.     Berlatih wawancara

Biasanya, Anda akan mendapat pemberitahuan tentang lulus berkas minimal satu atau dua bulan. Pemberitahuan ini bisa dilakukan either via telfon or email, atau kedua-duanya. Saat Anda dinyatakan lulus berkas, Anda boleh berbahagia, tapi tidak boleh larut dalam kebahagiaan. Karena masih ada satu lagi rintangan yang harus Anda taklukkan, yaitu wawancara. Dalam hal ini Anda harus banyak-banyak membaca buku tentang trik-trik sukses wawancara. Yang saya lakukan dulu ketika saya akan diwawancara adalah: 1. Membuat bank soal sendiri dan kemudian dibuat jawabannya. 2. Meminta teman-teman yang sudah pernah mendapat beasiswa (jika ada, jika tidak ada, Anda cukup meminta bantuan teman dekat Anda) untuk pura-pura menjadi pewawancara. Kedua cara tersebut terbukti sangat manjur, karna untuk cara pertama, Anda akan terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang bakalan ditanyakan. Cara kedua, melatih Anda untuk fasih berbahsa Inggris dan atau terlihat santai saat wawancara beneran.
b.     Prepare for the worst
Dalam setiap usaha pasti akan ada kemungkinan gagal. Jika itu terjadi, maka Anda harus benar-benar siap untuk menerimanya. Satu kali, dua kali, tiga kali gagal, jangan pernah menghambat Anda untuk terus berusaha. Oh ya, Anda tidak dilarang untuk melamar pada beasiswa lain di waktu bersamaan, semisal ADS, STUNED, FULLBRIGHT, NZAID, dll. Kata orang bijak “don’t put your eggs in one basket”. Jadi kalau misalnya ditolak oleh satu sponsor Anda masih punya harapan yang lain. Untuk saya sendiri, sebelum saya lulus pada beasiswa PRESTASI-USAID, saya sudah pernah menerima tujuh kali surat penolakan dari berbagai sponsor beasiwa. Bahkan ada teman saya yang sudah mendapat surat penolakan belasan kali, dan telah berburu beasiswa selama tujuh tahun. Jadi, kita sepakat ya di sini bahwa tidak ada kata menyerah dalam kamus kita, Okay?
Wow… tak terasa ternyata saya sudah menulis sepanjang delapan halaman. Mudah-mudahan teman-teman tidak capek dan bosan ya membacanya. Semoga tulisan saya ini bisa membantu teman-teman memperoleh beasiswa khususnya beasiswa PRESTASI-USAID atau mungkin berguna juga untuk sponsor beasiswa lainya. Dan yang lebih penting…………  Semoga mereka jatuh hati pada Anda. Akhirnya, siapapun yang membaca tulisan saya ini, dan mereka bertekad kuat untuk mendapat beasiswa, saya mendoakan dengan tulus semoga Anda dapat meraih impian Anda tersebut, Amin….

East Lansing, 13 Juli 2013
Dion Efrijum Ginanto
             

Jika para pembaca ingin ngobrol-ngobrol lebih lanjut tentang beasiswa: contoh essay beasiswa, contoh CV, contoh surat rekomendasi, dan atau contoh bank soal interview, saya siap dihubungi di:
TWITTER       : @dion_ginanto
FB                    : Dion Efrijum Ginanto
HP                   : +1313-728-8069
Skype              : dion.ginanto
Email              : dion.efrijum@gmail.com (ada google hangout juga)
Saya akan tanggapi di saat saya tidak sibuk kuliah, InsyaAlloh.

* Mereka dalam tulisan ini saya batasi pada tim seleksi beasiswa PRESTASI-USAID.

Friday, May 10, 2013

My 100 Days Plan of School Principalship


Dion Ginanto

            Being a principal is an honor job. However, not all people can bear the burden of being the leader of a school. A lot of principals are successful in moving their schools forward, but a lot of them are failing to lead. The failure of a principal is not merely because s/he is not capable to lead; rather, s/he fails to set up a principal’s plan; I argue that the success of leading is determined by the success of your leading in your first 100 days. Therefore, to make a great start, every principal needs to have a good plan for his or her first steps. Joseph (2012), wrote, “The first hundred days of the school year is important, whether you are a new principal or a veteran principal. As a new principal, you will establish basic operating procedures and begin to cultivate the norms of your school. As a veteran principal, you will have the opportunity to reflect on your practices from previous years, and you can begin the reculturing process as you strive continuously to improve your school for children, parents, and staff” (p. xiii). In this paper I discuss my vision of leading, my vision of learning, my vision of school, and my 100 days principalship plan.
A.   Vision of Leading
My vision of leading is: “Leading with CHEETAH (Creative, Honest, Enthusiasm, Elegant, Trust, Accountable, and hardworking) to implement school success.” I believe that by having the elements of CHEETAH, I can lead my building efficiently and effectively.

B.    Vision of Learning
My vision of learning is: “Leading with EPICS (Equitable, Positive, Intellectually based, Collaborative, and Safe) for a positive learning climate.” I believe that the success of the school starts in the classroom. Hall and Geroge in Freiberg (1999) wrote that the role of teachers is to make a positive climate in the classroom, while a principal is responsible for creating a positive climate in the school. Therefore, by having these elements of EPICS, I believe I can trigger students’ achievement.
C.   Vision of School
I understand that creating a vision of the school needs to be done together with the school’s staff. However, as a future principal I need to have a vision as my guidance to where I need to bring my school. My school vision is: “Creating a Positive School Climate to create successful students.” I will bring my school vision to the staff meeting in my 100 days program, and together with the staff we will either maintain the vision of the school that has already existed, or modify it.
D.   My 100 days planning
Starting a new job or a new career is one of life’s great moments. The road ahead promises adventure, opportunity, and independence. Long-delayed dreams can finally be realized. Everything seems possible. Bumps? Obstacles? Who want to thing about such things when the world is alive with possibilities? Yet in fresh situation filled with opportunities, there are always land mines concealed just below the surface. Too often, we discover them only when they blow up in our faces. Enthusiasm and optimism can quickly erode into a mire of disappointment and disillusionment. New comers will always encounter bumps and an unfamiliar road. (Bolman and Deal, 2010, p. 26)

To get ready for the bumps and obstacles, as written by Bolman and Deal (2010) above, we need to learn about the school we want to lead. It does not matter whether you are a novice or a veteran principal; we need to learn about the school we will lead.
Figure 1: My 100 Days Planning



·      The stages of my 100 days planning are: I will make good relations with the people in the building first. I will then review data to be able to set the direction of my school. After I succeeded in figuring out the data and the school’s direction, I will develop the people and the organization. The final output of my 100 days planning is having a good start to accomplish the success of the school.
·      I divide my 100 days planning by months: July, August, and September + 10.
·      I will use my visions of leading, of learning and of the school as guidance for my 100 days planning.


To make my 100 days planning more manageable, I have divided it by: monthly-based, theme-based, and rationale based. I also explain my hundred days planning based on the question: “What, who and how is this program for?”
1. July
As shown in the table, I have divided my 100 days planning based on the big themes: Developing Relationships, Reviewing Data, Setting Directions and Developing People and Organization.
Developing Relationships (July)
a.     Rationale
Bolman and Deal (2010) asserted that novice principals need to work on building relationships with key players. They suggested that principals spend time and find out how they think, what is important to them, and what they would like from you. They asserted that the better your relationships, the more likely you are to build support and defuse opposition. From the table, there are some actions that can be done by the principals in the first month (July):
1)    Identify mentors, priests, and storytellers: Bolman and Deal (2010) wrote that a new principal should identify informants, since they can tell how things came to be and instruct you in cultural mores and norms. They will also give  

you important lessons on what works and what to avoid. In taking this step, I will approach the staff who have been working in the school for a long time. I will approach them informally and make them comfortable to talk with me.
2)    Talk in person to staff/administrators: Joseph (2012) listed one action that can be done by the novice principal: “Meet individually with leadership team members” (p.117). In implementing this entry planning, I will make a timetable to have an informal and in-person meeting with my staff and administrators. I can either invite them to my office room, or I can jump in to their table.
3)    Staff and teacher meeting, plus traditional food party. This meeting is for introducing each other, 4) Meeting with Students association e-board, 5) Schedule meeting with parents, supervisor, board members, and superintendents; invite them to the school party. I quote one of Joseph (2012) programs in his book, “schedule meet-and-greets with staff and parents throughout the community” (p. 117). I added students to my meeting agenda, since in Indonesia every school has  a student organization that implements extracurricular activities. This meeting is designed to make students, staff and parents more familiar with their new principal. I will use the food party setting to make the meeting less formal.
b. What, Who and How is this program for?
The aim of this program is to develop a strong relationship of a novice principal with the staff, teachers, students, and parents. The way of doing this is informally and personally.  The target of this program is to enhance a strong commitment to work together in realizing a better school.

Reviewing Data (July)
a. Rationale
Skiba and Sprague (2008) contended that data-based decision making is interwoven throughout school-wide positive behavior support. In line with this, the Wallace Foundation, in Whitehead, Boschee, and Decker (2013), asserted that the principal should be able to manage people, data, and the process of fostering school improvement. Consequently, to lead in my first month, I need to be able to use data to avoid making decisions based only on assumptions. Things that I will do for reviewing data in July are: 1. review students’ data, 2. review the teachers and staffs’ curriculum vitae, and 3. conduct a survey about teacher, students, staff.  This survey is aimed to know what teachers, staff and students want for school change.
By conducting a review of staff, teacher, and student’ data, I can create a leadership map of the school. I can figure out what students need, and what help I should give to my teachers and staff. I can also know more about my staff and teachers by reading their curriculum vitae. Another important thing that I will do regarding the data is that I will conduct a survey of my teachers, students, and staff. By having survey data, I can get authentic and scientific data about people in the building.
b.     What, Who and How will this program for
The target of conducting this plan is to get authentic and scientific data about the students, teachers, and staffs. By having this kind of data, I can make decisions, which are not based only on my assumptions.

Setting Directions (July)
a.     Rationale
ELCC (Educational Leadership Constituent Council) standard number 1.3 says that a principal needs to be able to steward a school vision of learning. As a principal, I will try my best to guide my staff to set the direction of our school together.  In the first month of my leadership, I will not change or adjust the school’s vision; rather, I will learn the about previous visions of the school. Joseph (2010) also listed this in his first 100 days planning. He wrote, “Begin creating a graphic of your beliefs and vision of teaching” (p.117). In July, the activities I will do are: 1. learn the school culture: Hero, heroine, icons, and rituals, and 2. read and learn about previous school visions, missions, and goals.
b.     What, Who and How is this Program for?
The expectation of this month’s program regarding setting directions is that I have a deep view of the vision of my school. Therefore, during this month I will learn the school’s culture, vision, mission, and goals that have already existed in my school. By having a big picture of my school’s vision and mission, I will be able to decide whether I will keep, adjust, or change them.
Developing People and Organization (July)  
a.     Rationale
One of the roles of a principal is to be instructional leader. As an instructional leader, a principal is encouraged to motivate the staff to enhance the quality of the people as well as the instruction in the building. Whitehead, Boschee, and Decker (2013) defined instructional leader as follows: “The principal is responsible for improvement of instructional practices, that is, using research-based methodology to enhance the learning for diverse learners in the classroom” (p.44). In my opinion, developing people and organization is aimed at creating a positive school climate. I quote the teaching material of Prof. Beth Smith in her EAD 812 class:
People are the heart of any organization.  When people feel the organization is responsive to their needs and supportive of their goals, managers and leaders can count on their followers’ commitment and loyalty.  Managers and leaders who are authoritarian or insensitive, who don’t communicate effectively, or who simply don’t care about their people can never be effective managers and leaders. The job of the manager and leader is one of support and empowerment (Slide p. 2).

Smith (2013) also asserted that people need organization, and organization needs people. Therefore, I will try my best to balance this mutual relationship to make a positive school climate. By having a positive school climate, I will have a better instructional process in the building. In this step, I will: 1. create the map of political terrain in the building: pro-change, oppose change, and in between; and 2. set up the program that promotes greater collaboration.
I believe that by having a clear map of the political terrain, I can understand more about my staff. Bolman and Deal (2010) wrote that it is important to know the political terrain of the school, because school is a collection of different individuals and groups with enduring differences in backgrounds, beliefs, and agendas. Accordingly, after I know the political terrain, I will be able more easily to develop my staff and organization, and I will finally be able to figure out the programs that promote greater collaboration.   
b.     What, who and How is this Program for?
The basic aim of this planning is that I achieve a clear view of those I will lead. By having an understanding of the political terrain, I will not be afraid to make a wrong decision in regard to developing people and the organization. Also, in this step I will design a program that can make all people in the building collaborate effectively in achieving school goals.

2. AUGUST
Developing Relationships (August)
a.     Rationale
1)   Meeting with Vice Principals (commonly in Indonesia, we have four vice principals in a high school) to discuss the school’s vision and change. 2) Meeting with predecessor. Whitehead, Boschee, and Decker (2013) listed one of the roles of principals as a bureaucratic executive, which means that a principal is perceived as a member of a well-developed educational bureaucracy with clearly defined bases of power and responsibility. My aim of meeting with vice principals is to ask their opinion about the meeting that I will hold with everyone in the building. Therefore, in the meeting we have, the same perspectives will help us run the meeting smoothly. Meanwhile, meeting with my predecessor is aimed to learn as much information as possible, because the school principal’s predecessor understands the strengths and weaknesses of the school.
3) Conduct a school meeting: teachers, staff, students representatives, custodians, librarians, etc., to talk about school vision, SWOT analysis, and plan of change-if needed. Joseph (2012) wrote that a leader of a school needs to create the conditions necessary to revisit or to create a shared vision. Strength, Weakness, Opportunity, and Threats (SWOT) analysis is also important to be conducted by a leader, in order to enable the leader to understand some possibilities and risks of a policy.
b.     What, who and How is this Program for?
The Developing Relationships program in August is aimed to build relationships with people who had and have power and responsibility in the school. Then, after I get the big picture of the school’s vision and the school’s SWOT analysis, I will conduct a big meeting of all people in the building to discuss the school’s vision and whether or not it need to be changed.
Reviewing Data
a.     Rationale

·      Conduct classroom walkthroughs: One of the aims of conducting a classroom walkthrough, according to Downey, et.al (2004), is “to promote teacher use of assessment for diagnostic purposes to determine prerequisites, and acquisition and mastery of the learning” (p.8). In conducting classroom walkthroughs, I will influence teacher’s thinking without giving any judgmental analysis. I believe that by having them discuss with me, we can share and end up with a common desire to change to a better instructional approach. The key point about the walkthrough is that both principal and teachers can walk the talk (being committed to do the actions). Also, to make the walkthrough runs smoothly, I will promote SBIQ (Situation, Behavior, Impact, and then pose Question) in my building. Meloche (2013) suggested that the feedback of classroom walkthrough is based on SBIQ. (For more information about SBIQ, please visit: http://dionginanto.blogspot.com/2013/03/classroom-walkthrough-sbiq.html and read the attachment of SBIQ by Meloche, 2013).
·      Review and learn the school’s curriculum: In Indonesia at the moment, we use the School-Based Curriculum. The curriculum enables every school to modify or improvise the content, based on the school’s needs.  Therefore, every school has different curriculum. By having good mastery of the curriculum used in the school, I will easily provide the destination of the school curriculum. Whitehead, Boschee, and Decker (2013) asserted that one of the roles of the leader is to provide the destination and/or path for the development and implementation of a comprehensive school curriculum.
b.     What, who and How this Program for
In doing this step, the final target is to gain authentic data about teaching and learning activities by conducting a classroom walkthrough in every class. The walkthroughs that I will conduct will last for three to five minutes. The main aim of my walkthrough is not to change teachers’ behavior by telling them how to teach effectively, but rather to have a discussion with them about the teaching and learning program in the classroom that best promotes students’ achievement. I will also learn the curriculum that is currently being used in the school. Having a deep understanding of the curriculum is important to avoid using assumptions in making policy regarding the curriculum.
Setting Direction (August)
a.     Rationale
·      Do a school visit to the international school in the neighboring county.
One of the roles of the principal in 2000-to-present era, according to Whitehead, Boschee, and Decker (2013), is as a global learning leader who is encouraged to make connections and enable students to develop global perspectives. Therefore, to make that happen, as a principal I need to learn from the only international high school in my province (SMA Titian Teras). I will learn how the school maintains the quality of its teachers, students, and facilities.
·       Package school vision. Having a strong vision of the school is very important. The school will not end up with success if it does not have a clear and strong vision. Joseph (2012) contended that dealing with the school’s vision, includes setting of the top priorities for actions in the next year or two.

b.     What, who and How this Program for
The target of this step is that I as a principal can work together with the staff in setting up the directions of the school, by arranging the top priorities for action based on the school’s vision. Also, I need to infuse the values of the international high school in my province into my school. I hope by having a clear view of the parameters of a good school, and top priorities for action, all the staff will easily collaborate to accomplish the school’s goal.
Developing People and Organization (August)

a.     Rationale

·      Developing deep understanding of how to support teachers: From his research, Johnson (2008) revealed that principals need to give greater help to teachers in content knowledge. If I adopt the idea of Johnson, who conducted his research in the United States, I need to have really deep information about what kinds of help the teachers need to improve their instruction. The challenge that I will encounter is that in my country the so-called Professional Development (PD) or Professional Learning Community (PLC) are not really familiar in most schools in Indonesia. Thus, I will conduct both a personal and an official approach to gather the necessary information about how to support teachers through interviews, unofficial talks, observations, surveys, etc.
·      Building a collaborative process. One of the roles of the school principal in the 2000 - present era is as a collaborative leader. This means that school leaders are encouraged to work with teacher leaders and to facilitate a team approach for decision making and learning (Whitehead, Boschee, and Decker, 2013). I see this step as challenging, since in my school, based on my observations so far, the culture of collaboration among the teachers is very small. Therefore, I need to work harder to build the collaborative process among people in the building. One thing that I will try to assure to my school is by changing “I to we”.
b.     What, who and How is this Program for?
The main aim of this step is to create a collaborative tradition in the building. Positive collaboration among staff, teachers, and students will create a positive school climate. By having a positive school climate, the success of the school can be achieved more easily.

3. September + 10 Days

1.     Developing Relationship (September + 10 Days)
a. Rationale
·      Conduct a sport tournament for teachers in welcoming Independence Day of Indonesia. Bolman and Deal (2010) argued that a school principal should be able to spend time with people. This approach is aimed at getting closer to those who seem distant or who disagree with you. By conducting informal activities, such as a sport tournament among teachers, I can more unofficially associate with them. The first week of September would be great, since our Independence Day is every August 17. I will not conduct a sport tournament at the school in August, because a lot of people will be busy with the independence ceremony held by the local government.
·      Home visit for parents to increase parental involvement. Lopez, et.al (2000) wrote about ways to increase parental involvement at school, by: (1) initiating parental contact; (2) making non-traditional strategies and means to get parents involved in their children’s education; (3) giving adult education and training for parents; and (4) being accountable to parents. In line with this, Noguera (2004) asserted that “When parents are respected as partners in the education of their children, and when they are provided with organizational support, which enables them to channel interests to the benefit of the school, the entire culture of the organization can be transformed” (p. 15). Therefore, the first action that I will conduct in September is to do home visits for parents. If I cannot reach them all, I will make a regular phone call, or post an updating report about students and school through the website.



   b. What, Who and How is this Program for?
    This month program is targeted to make a closer relationship among the principal, the teachers, and parents. Some programs, such as a sport tournament for teachers and home visits, are considered effective programs to build stronger collaboration relationship.
2.     Reviewing Data (September + 10 Days)
a.     Rationale
Conduct school observations. Observation is believed to be one effective approach to improve students’ learning as part of their preparation for competing in the emerging global world (Whitehead, Boschee, and Decker, 2013). Again, in conducting the survey I will not give judgmental feedback to my teachers; rather, I will ask them to discuss with me about the instructional process in their class. I will also empower teachers to conduct classroom observations in each other’s classroom. I will use protocols to help me and my teachers discuss the feedback. Protocol is a set of guide that can make the meeting more effective. The example of protocol can be seen in the attachment 2. In this paper, I also attach the feedback timeline in attachment 3, and the conversation sentence starters of the observation feedback cycle in attachment 4.
·      Analyze school data: Survey, walkthrough, and observation. Joseph (2012) puts analyzing the data in his first 100 days plan. By analyzing the data, principals will be able to measure what needs to be prioritized in their programs. Also, by analyzing the data, principals will avoid assumption-based policy.
b.     What, who and how is this program for?
The target of this month’s “Reviewing the Data” is for me to analyze the data that I have ever conducted in July and August. Survey, walkthroughs, and observation data are valuable assets for me to determine what change I should enact in my building. 
3.     Setting Direction (September + 10 Days)
a.     Rationale
·      Together create high performance expectations. One of the core components of school performance is high performance expectations. Goldring, et al., (2007) categorized the high standards of student learning as, a. both teachers and students the rigorous learning goals; b. teachers and students have high expectations of success; c. the gap between advantaged and less advantaged students is closed; and d. the overall academic achievement of all students is raised. When I become a principal, creating a high standard of students’ learning will be my priority in my 100 days planning. This is because we can motivate students and teachers when we all agree to set up the high performance expectations. I believe everyone will work hard to achieve this expectation.
·      Together develop a rigorous curriculum that promotes students learning. Goldring, et al., (2007) also put rigorous curriculum in their components of school performance. They argued that the curriculum needs to be adjusted to meet the need of the students. In implementing this program, I will combine eastern and western curricula. I will pick the positive values of western philosophy, and I will remove those that do not fit our culture (think globally but act locally). I will also encourage teachers to create lesson plans which are useful to the students’ future. The most important thing is that I will make sure that the school curriculum is adjusted to up-to-date materials.
·      Make plans for infrastructural construction. I will do this program because I think infrastructure (building quality, classroom facility, parking lot, etc) affects the school climate. If we can make a positive school climate, we can easily create school success. Freiberg and Stein in Freiberg (1999) defined school slimate as the quality of a school that helps students feel personal worth, dignity, and importance. Having a positive school climate will also increase students’ sense of belonging.
b.     What, who and How is this program for?
In this stage I will start to think about the school’s direction. I will start to make a rigorous curriculum, and high expectations for students’ performance, and I will create a positive climate, especially in building infrastructures’ planning. In this stage, I realize that I already have good relations with the people in the buildings; therefore, I will push and empower them to make higher expectations for our school performance.
4.     Developing People and Organization (September + 10 Days)
a.     Rationale
·      Build shared/distributed leadership. Distributed leadership poses the challenge of how to distribute responsibility and authority for guidance and direction of instruction, and learning about instruction, so as to increase the likelihood that the decisions of individual teachers and the principal about what to do, and what to learn how to do, combine into collective benefits for student learning (Elmore, 2000). Distributed leadership is not really familiar in schools in Indonesia. Thus, I will be challenged to promote this leadership style in my school, because in my opinion, distributed leadership is very valuable for all teachers to learn about how to lead and how to have leadership roles in the building.
·       Conduct professional development (PD) and make a schedule of PD for teachers: Whitehead, Boschee, and Decker (2013) defined Professional Development as the most effective means of leading and ensuring transformational change. PD can increase comprehensive professional growth for staff.  After I understand about the teachers’ needs and character, I will conduct PD at the school. I will also make a timetable for teachers to be registered for the PD at the county or province levels. PD is very important to maintain the quality of teachers and the quality of instruction. By considering the growth of information and technology, teachers need also to enrich their capacity in the area of IT.
·      Conduct professional learning community (PLC). In doing PLC, I will adopt the idea of Novak (2013), to focus on three areas of learning community: professional learning, leadership, and collaboration. I understand that PLC is not really familiar in Indonesia, but I believe that by starting to promote this culture, I can spark the spirit of PLC in other schools.
·      Manage the environment and strengthen school culture and safety. Another role of principals is as a guardian for a safe school. This means that school leaders must be able to address safety issues, including bullying, discrimination, and violence (Whitehead, Boschee, and Decker, 2013). To deal with this program, I will promote capacity building for students and/or teachers about issues of discrimination, bullying, violence, clean environment, discipline, etc. I will invite the trainers to help us figure out resolving these kinds of issues.
·       Create positive communication with government and private sectors. One of important role of a principal is to be a community leader. The collaborative value is part of the ELCC standard # 4.1:Collaborate with families and other community members (Whitehead, Boschee, and Decker, 2013). In my 100 days planning, I will create a schedule of meetings with local government and private sectors, to have discussions about how the school can collaborate with them. By having good communication with them, the school can benefit from their donations, which are very important for the school.
b.     What, Who and How is this program for?
In my September + 10 days stage, I will start to develop each part of the building: teachers and staff, infrastructure, and environment. This stage is targeted for all elements in the school to pursue quality performance in achieving the success of the school.
Conclusion
         There is a beautiful anonymous proverb: “Plan Your Work and Work Your Plan.” This proverb is simple yet difficult to be implemented. It is easy to create a 100 days planning list; however, it will be difficult to implement the list in real work. Therefore, if I become a principal, I will always have this 100 days planning with me. I will make a checklist on what has been done, what is being done, and what will be done. I will focus on four main topics as the priority of my actions: Developing relationships, reviewing data, setting directions, and developing people and organization. I will also adopt the values of leading defined by Joseph (2012): encouragement, know-how, and enthusiasm. To end this paper, I quote another beautiful proverb: “If you fail to plan, you plan to fail!” This means, if you want to succeed in leading your school, you need to have a good plan. Having 100 days planning will guide me in how to have a good start in my principalship.

Reference:
Bolman, L. & Deal, T. (2010) Reframing the path to school leadership. 2nd edition. Thousand Oaks, CA: Corwin Press.

Downey, C.J., Steffy, B.E., Enflish, F.W., Frase, L.E., & Poston, W.K. (2004). The three-minute classroom walk-through: Changing school supervisory practices one teacher at a time. Thousand Oaks, CA: Corwin Press.

Elmore, R.F. (2000). Building a new structure for school leadership. Washington, D.C.: The Albert Shanker Institute.
Freiberg, H. J. (Ed.) (1999). School Climate: Measuring, Improving and Sustaining Healthy Learning Environments. New York: Routledge Falmer.

Goldring, E., Porter, A.C., Murphy, J., Elliot, S.N. & Cravens, X. (2007). Assessing learning centered-leadership: Connections to research, professional standards, and current practices. Nashville, TN: Vanderbilt University.

Lopez, Scribner, and Mahiticanichcha (2001). Redefining Parental Involvement: Lessons From High-Performing Migrant-Impacted Schools. American Educational Research Journal.

Johnoson, Jean., (2008). Special topic/The principal’s priority 1: Public Agenda Reports, 66(1), 72-76

Joseph, Shwan. (2012). The principal’s guide to the first 100 days of the school year: Creating instructional momentum. New York: Eye On Education.

Meloche, B. (2013) Difficult conversations-situation-behavior-impact-question. MSU: Unpublished (teaching materials).
Noguera, P. A. (2004). Transforming urban schools through investments in the social capital of parents.  New York, New York:  In Motion Magazine.

Novak, Stephanie. (2013). How we became a learning school. Retrieved from: http://blogs.edweek.org/edweek/learning_forwards_pd_watch/2013/01/how_we_became_a_learning_school.html.

Skiba, R., & Sprague, J. (2008) Safety without suspensions. The Positive Classroom. 66(1) pages 38-43.

Smith, Beth Ann. (2013). The human resources frame (Week 13). A class presentation. Michigan: Michigan State University.

Whitehead, B., Bjoschee, F., Decker, R., (2013). The principal: Leadership for a global society; Los Angeles CA., Sage.